Drama Kolosal Hidupkan Pertempuran 3 Oktober, Aaf Ajak Anak Muda Teladani Pejuang

Drama Kolosal Hidupkan Pertempuran 3 Oktober, Aaf Ajak Anak Muda Teladani Pejuang
View on original source
زمرہ: مکس
شیئر کریں
آرکائیو
پسند کریں
PERTEMPURAN 3 OKTOBER - Drama kolosal, kisah Pertempuran 3 Oktober 1945, menghadirkan keberanian rakyat Pekalongan ketika berjuang mengusir penjajah Jepang, di Monumen Juang Kota Pekalongan, Sabtu (3/10/2026) malam. TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Dentuman suasana perjuangan seolah kembali terdengar di Monumen Juang Kota Pekalongan, Sabtu (3/10/2026) malam. Lewat drama kolosal, kisah Pertempuran 3 Oktober 1945 kembali dimainkan di hadapan masyarakat, menghadirkan kembali keberanian rakyat Pekalongan ketika berjuang mengusir penjajah Jepang. Baca juga: Usung Konsep Drama Kolosal, Nur Fatoni Semangat Berkarya Tampilkan Kreativitas Teatrikal Karnaval Adegan demi adegan menggambarkan, semangat perjuangan masyarakat pada masa itu. Aksi heroik para pejuang diperagakan, termasuk penurunan dan pengibaran bendera yang menjadi bagian dari drama kolosal tersebut. Malam peringatan Pertempuran 3 Oktober akhirnya tidak sekadar menjadi pertunjukan sejarah. Drama kolosal tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan perjuangan masa lalu dengan tantangan generasi masa kini. Peringatan itu tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang masa lalu. PERTEMPURAN 3 OKTOBER - Drama kolosal, kisah Pertempuran 3 Oktober 1945, menghadirkan keberanian rakyat Pekalongan ketika berjuang mengusir penjajah Jepang, di Monumen Juang Kota Pekalongan, Sabtu (3/10/2026) malam. Bagi Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, kisah perjuangan tersebut harus terus diceritakan agar generasi muda tidak kehilangan jejak sejarah daerahnya. "Ini harus kita peringati terus setiap tanggal 3 Oktober supaya generasi-generasi penerus kita tidak lupa dan tahu akan perjuangan pahlawan-pahlawan Kota Pekalongan pada waktu itu seperti apa," kata Aaf. Menurut Aaf, salah satu pelajaran penting dari Pertempuran 3 Oktober 1945 adalah kekuatan persatuan. Saat itu, perjuangan tidak hanya dilakukan oleh satu kelompok. Tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat umum berkumpul dengan tekad yang sama untuk merebut kemerdekaan. "Semuanya bersatu, dari unsur masyarakat, dari unsur tokoh-tokoh masyarakat, dari tokoh agama, semuanya berkumpul, semuanya jadi satu, semuanya satu tekad untuk bagaimana merebut kemerdekaan terutama di Kota Pekalongan," ujarnya. Semangat persatuan tersebut, kata Aaf, menjadi nilai yang masih relevan untuk diwariskan kepada generasi sekarang. Terlebih, para pejuang pada masa itu bergerak tanpa menunggu perintah, tanpa paksaan, dan tanpa mengharapkan bayaran. "Yang patut kita teladani adalah bagaimana perjuangan beliau-beliau, para pahlawan ini, tanpa dikomando, tanpa dipaksa, tanpa dibayar, semuanya bersatu," tutur Aaf. Dari kisah itu pula, Aaf mengajak generasi muda untuk menerjemahkan semangat perjuangan dalam kehidupan saat ini. Menurutnya, mencintai daerah dan negara tidak cukup hanya dengan menyampaikan kritik. Hal yang lebih penting adalah menunjukkan kontribusi nyata.

(0)تبصرے

 

کوکیز کے بارے میں ایک نوٹ

نیوزہنٹ آپ کو سائن ان رکھنے اور آپ کی زبان اور ملک یاد رکھنے کے لیے ضروری کوکیز استعمال کرتا ہے، تاکہ سائٹ آپ کی توقع کے مطابق کام کرے۔ آپ کی اجازت سے، ہم یہ سمجھنے کے لیے تجزیاتی کوکیز بھی استعمال کرنا چاہتے ہیں کہ لوگ نیوزہنٹ کو کیسے استعمال کرتے ہیں اور وقت کے ساتھ اسے بہتر بنانا چاہتے ہیں۔

قبول کرنا صرف تجزیات کو متاثر کرتا ہے۔ مزید جاننے کے لیے دیکھیں پرائیویسی پالیسی or شرائط و ضوابط.