Konten ini dibuat oleh pengguna Kompasiana. Seluruh isi menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan resmi redaksi Kompas.
Di hadapan senja yang perlahan menumpahkan warna merahnya ke punggung gunung, aku teringat kepadamu.
Entah mengapa, setiap kali alam menjadi indah, hatiku justru menjadi lebih murung. Barangkali karena keindahan itu mengingatkan aku kepada sesuatu yang pernah kuinginkan, tetapi tidak pernah dapat ku rengkuh oleh jemariku.
Aku pernah menyangka bahwa cinta hanyalah perkara bertemunya dua hati. Rupanya tidak. Cinta kadang-kadang adalah perjalanan panjang seorang diri, membawa nama seseorang ke mana pun kaki melangkah, meskipun orang yang namanya dibawa itu tidak pernah tahu.
Engkau pernah bertanya, mengapa aku begitu suka memandang jauh ke balik gunung?
Tidak pernah kujawab.
Sebab bagaimana mungkin kukatakan kepadamu bahwa di balik gunung itu ada segala sesuatu yang tidak sanggup kusebutkan? Ada rindu yang tidak sampai, ada harapan yang tidak sempat tumbuh, dan ada namamu yang diam-diam kutitipkan kepada angin.
Jika kelak aku pergi jauh, jangan kau kira aku telah melupakanmu.
Sebab manusia dapat meninggalkan sebuah tempat, tetapi belum tentu dapat meninggalkan kenangan yang tinggal di dalam dadanya.
Aku mungkin akan melihat laut yang lain, menempuh jalan yang lain, menyaksikan matahari terbit dari puncak yang berbeda. Namun, barangkali pada setiap senja, aku akan tetap mencari sesuatu yang menyerupai tatapanmu.
Dan jika tidak kutemukan, biarlah.
Sebab bukankah cinta yang paling setia kadang-kadang bukanlah cinta yang memiliki, melainkan cinta yang tetap mendoakan dari kejauhan?
Maka biarkanlah aku menyimpanmu seperti orang menyimpan sebuah surat lama: tidak setiap hari dibaca, tetapi tidak pernah dibuang.
Sebab ada nama yang cukup sekali masuk ke dalam hati, lalu tinggal di sana sampai kita sendiri tidak tahu lagi bagaimana cara mengusirnya.
Dan namamu adalah salah satunya.
(0)Comments