Belajar Bukan Sekadar Tahu, Guru SMP Muhammadiyah 3 Waru Didorong Menghidupkan Pembelajaran Lewat Karya
pwmu.co -
Pembelajaran di sekolah seharusnya tidak berhenti pada seberapa banyak materi yang mampu dihafalkan siswa. Lebih dari itu, proses belajar perlu membekali peserta didik untuk menghadapi persoalan dalam kehidupan nyata.
Semangat tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Workshop Peningkatan Kompetensi Guru yang digelar di SMP Muhammadiyah 3 Waru, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan ini menghadirkan Pengawas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Henik Umi Koyum, S.Pd., M.Pd., sebagai pemateri.
Dalam workshop tersebut, Henik mengajak para guru mengenal dan mengembangkan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).
Menurutnya, pembelajaran mendalam tidak sekadar membuat siswa memahami isi buku pelajaran. Pembelajaran harus memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa dapat digunakan untuk menghasilkan solusi, karya, maupun produk yang memiliki manfaat.
'Belajar bukan untuk sekolah tetapi belajar untuk hidup' jelas Henik dalam pemaparannya.
Pendekatan STEAM menjadi salah satu cara untuk mewujudkan pembelajaran tersebut. Lima bidang ilmu diintegrasikan secara terpadu dalam proses pembelajaran.
Science (sains) digunakan untuk memahami fenomena dan konsep ilmiah. Technology (teknologi) dimanfaatkan sebagai alat untuk mencari informasi, memecahkan masalah, maupun menghasilkan karya. Engineering (rekayasa) digunakan untuk merancang, membuat, menguji, dan memperbaiki solusi atau produk.
Sementara itu, Arts (seni) dapat memperkuat aspek kreativitas dan estetika. Adapun Mathematics (matematika) digunakan melalui logika, pengukuran, perhitungan, pola, dan analisis data.
Dengan pendekatan tersebut, guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi menjadi fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan persoalan, merancang solusi, menghasilkan karya, menguji hasil, kemudian melakukan refleksi dan perbaikan.
Henik memberikan sejumlah gambaran konkret bagaimana pembelajaran dapat diarahkan pada produk dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan siswa.
Dalam pembelajaran IPA, misalnya, siswa tidak hanya mempelajari konsep tentang air dan pencemaran, tetapi dapat diarahkan untuk merancang dan menghasilkan alat penjernih air. Dengan demikian, konsep sains yang dipelajari tidak berhenti pada teori, tetapi diwujudkan menjadi sebuah solusi terhadap persoalan di lingkungan.
Demikian pula dalam pembelajaran Prakarya. Siswa dapat diarahkan menghasilkan batik ecoprint sehingga mereka belajar tentang kreativitas, pemanfaatan bahan alam, proses produksi, estetika, hingga peluang kewirausahaan.
Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, pembelajaran dapat diarahkan pada karya nyata berupa buku antologi puisi karya siswa. Proses tersebut memungkinkan siswa belajar menulis, menyunting, mendesain, berkomunikasi, hingga mempublikasikan karya.
'Ketika anak sudah lulus mereka masih bisa mengakses karyanya baik dan dikemas dalam bentuk produk digital maupun karya cetak yang bisa dibanggakan ,' terang Henik.
Workshop juga menekankan pentingnya kolaborasi antarmata pelajaran. Sebuah projek tidak harus menjadi tanggung jawab satu guru atau satu mata pelajaran saja. Sebaliknya, guru dapat bersinergi sesuai kompetensi masing-masing untuk membantu siswa menyelesaikan sebuah projek secara utuh.
Misalnya, projek taman sekolah dengan tema gaya hidup berkelanjutan dapat melibatkan berbagai mata pelajaran. IPA memberikan penguatan tentang ekosistem dan lingkungan, Matematika membantu pengukuran dan perencanaan, Seni mendukung aspek estetika, Bahasa Indonesia mendukung komunikasi dan penyusunan laporan, sedangkan teknologi dapat dimanfaatkan untuk dokumentasi dan publikasi.
Begitu pula projek kampanye anti-bullying dapat dikembangkan melalui produk berupa video, flyer, dan poster. Siswa tidak hanya memahami konsep tentang perundungan, tetapi juga belajar menyampaikan pesan secara kreatif kepada masyarakat sekolah.
Projek lainnya dapat dikembangkan melalui bazar produk UMKM siswa sebagai wahana pembelajaran kewirausahaan. Siswa belajar menghasilkan produk, menghitung modal dan keuntungan, membuat kemasan, melakukan promosi, hingga berinteraksi dengan konsumen.
Melalui workshop ini, guru SMP Muhammadiyah 3 Waru didorong untuk mulai menggeser orientasi pembelajaran dari sekadar 'menyelesaikan materi' menjadi 'menghasilkan pengalaman belajar yang bermakna'.
Pembelajaran mendalam memberikan ruang kepada siswa untuk mengalami proses belajar secara lebih utuh: memahami persoalan, menghubungkan berbagai pengetahuan, bekerja sama, menciptakan karya, mempresentasikan hasil, menerima masukan, dan melakukan perbaikan.
Dalam konteks tersebut, produk bukanlah satu-satunya tujuan akhir. Yang lebih penting adalah proses dan kompetensi yang tumbuh selama siswa mengerjakan projek.
Karena itu, karya seperti alat penjernih air, batik ecoprint, buku antologi puisi, taman sekolah, video kampanye anti-bullying, poster, hingga produk bazar bukan sekadar hasil tugas siswa. Di balik setiap karya terdapat proses pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Workshop ini sekaligus menjadi momentum bagi SMP Muhammadiyah 3 Waru untuk terus memperkuat kompetensi guru dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Sebab, anak-anak mungkin akan lupa halaman buku yang pernah mereka pelajari. Namun, pengalaman ketika mereka berhasil menciptakan sesuatu, memecahkan masalah, bekerja bersama teman, dan merasakan bahwa belajar ternyata berguna bagi kehidupan, akan jauh lebih mungkin mereka bawa hingga dewasa.
(0)Comments