Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026, PERMAMPU Soroti Hak Seksual Perempuan Lansia

Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026, PERMAMPU Soroti Hak Seksual Perempuan Lansia
View on original source
Category: Health
Share
Archive
Like
KRAKATAU.ID, MEDAN – Hak kesehatan seksual perempuan lansia masih menghadapi stigma dan keterbatasan layanan. Karena itu, Konsorsium PERMAMPU menyoroti kebutuhan kesehatan seksual perempuan lansia dan pra-lansia dalam peringatan Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026. PERMAMPU menggelar pertemuan hybrid bertema 'Merayakan HKSR di Seluruh Siklus Kehidupan'. Kegiatan tersebut berlangsung di sekitar 25 titik kumpul di kabupaten dan kota pada 10 provinsi di Pulau Sumatera. Sebanyak 262 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 258 perempuan dan empat laki-laki. Peserta mencakup 51 perempuan lansia dan 94 perempuan pra-lansia anggota Credit Union (CU). Selain itu, hadir pula perwakilan Forum Perempuan Muda (FPM), Forum Keluarga Pembaharu dan Anak Rentan (FKPAR), pengurus CU, kader OSS&L, femokrat, tenaga kesehatan, keluarga pembaharu, serta lembaga jaringan penguatan perempuan. Seksualitas Perempuan Lansia Masih Dianggap Tabu Koordinator Konsorsium PERMAMPU, Dina Lumbantobing, mengatakan kesehatan dan hak seksual serta reproduksi (HKSR) merupakan bagian dari hak asasi manusia. Menurut Dina, hak tersebut berlaku sepanjang siklus kehidupan. Artinya, perempuan tetap memiliki kebutuhan kesehatan seksual ketika memasuki usia pra-lansia dan lansia. 'Perempuan lansia menghadapi dinamika kesehatan seksual yang kompleks, tetapi terkendala oleh minimnya ruang aman untuk mendiskusikannya secara kritis serta tingginya stigma masyarakat,' kata Dina. Selama ini, masyarakat cenderung mengaitkan seksualitas dengan hubungan seksual. Padahal, konsep kesehatan seksual mencakup aspek yang jauh lebih luas. Seksualitas juga berkaitan dengan keintiman emosional, sentuhan, kasih sayang, kesehatan reproduksi, otonomi tubuh, dan rasa aman. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri, dr. Nur Riviati, SpPD, K-Ger, menegaskan bahwa kebutuhan tersebut tidak berhenti ketika seseorang memasuki usia lanjut. 'Seksualitas pada lansia bukan sekadar performa fisik. Konsep seksualitas pada lansia bertransformasi; meluas pada keintiman emosional, sentuhan, kasih sayang, dan kelembutan,' ujar Nur Riviati. Menurutnya, masyarakat perlu melihat seksualitas sebagai bagian dari kebutuhan sepanjang hayat. Sebab, pengabaian aspek tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup dan kondisi psikologis lansia. 'Seksualitas merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Jika aspek seksualitas tidak diperhatikan, dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan psikologis lansia, bahkan berkontribusi memunculkan depresi,' katanya. Hak Kesehatan Seksual Berlaku Sepanjang Kehidupan PERMAMPU merujuk pada konsep kesehatan menyeluruh yang menempatkan kesehatan fisik, mental, emosional, dan sosial sebagai bagian dari kesejahteraan manusia. Selain itu, mandat International Conference on Population and Development (ICPD) Kairo 1994 menegaskan pentingnya akses terhadap informasi dan pendidikan seksualitas yang komprehensif. Hak tersebut mencakup seluruh rentang kehidupan. Mulai dari masa konsepsi, kanak-kanak, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia. Namun, pembahasan HKSR selama ini lebih banyak berfokus pada remaja dan kelompok usia produktif. Sementara itu, perempuan lansia masih sering terpinggirkan. PERMAMPU sebelumnya melakukan refleksi dalam peringatan Hari Lansia 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan lansia tetap menghadapi kebutuhan dan persoalan kesehatan seksual yang kompleks. Sayangnya, mereka belum memiliki cukup ruang aman untuk membahas pengalaman tersebut. Di sisi lain, stigma masyarakat membuat banyak perempuan lansia enggan menyampaikan keluhan. PERMAMPU Temukan Lima Persoalan Utama Dalam kegiatan Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026, PERMAMPU membahas sejumlah persoalan yang memengaruhi pemenuhan hak kesehatan seksual perempuan lansia dan pra-lansia. Pertama, masyarakat masih menganggap pembahasan seksualitas sebagai hal tabu. Padahal, pendidikan seksualitas holistik juga mencakup otonomi tubuh, kontrasepsi, pencegahan penyakit menular seksual, serta perubahan reproduksi pada masa perimenopause dan pascamenopause. Kedua, masyarakat masih mempercayai sejumlah mitos tentang kesehatan seksual lansia. Karena itu, PERMAMPU menggunakan pendekatan medis dan geriatri untuk membantu peserta membedakan mitos dan fakta. Ketiga, layanan kesehatan dapat menjadi pintu masuk untuk membahas HKSR secara aman. Salah satunya melalui pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) bagi perempuan. Keempat, pendekatan Hati, Pikiran, Tubuh mendorong perempuan memahami kesehatan seksual melalui rasa aman, refleksi empatik, dan otonomi tubuh. Kelima, PERMAMPU menegaskan bahwa hak kesehatan seksual, keadilan, otonomi tubuh, dan kenikmatan merupakan hak mendasar setiap orang. Hak tersebut berlaku tanpa memandang usia, gender, kondisi tubuh, ras, maupun kondisi disabilitas. Perempuan Lansia Butuh Ruang Aman dan Layanan Ramah Dari diskusi bersama peserta, PERMAMPU menemukan sejumlah tantangan di lapangan. Perempuan lansia masih kesulitan menemukan ruang aman untuk menceritakan pengalaman dan kebutuhan seksualnya. Akibatnya, banyak keluhan tidak tercatat dan tidak mendapat layanan yang sesuai. Selain itu, stigma membuat perempuan lansia merasa tidak pantas membicarakan kesehatan seksual. Bahkan, sebagian perempuan memilih diam ketika menghadapi masalah kesehatan. Di sisi lain, layanan dan informasi HKSR masih berorientasi pada usia produktif. Akibatnya, kebutuhan perempuan pada masa perimenopause dan pascamenopause belum mendapat perhatian yang memadai. Kondisi keluarga juga memengaruhi persoalan tersebut. Sebagian lansia enggan menyampaikan keluhan karena tidak ingin membebani anak atau anggota keluarga lainnya. Sementara itu, keterbatasan tenaga ahli turut menjadi tantangan. Jumlah dokter spesialis geriatri masih terbatas dan layanan geriatri belum merata hingga tingkat puskesmas. PERMAMPU Dorong Layanan HKSR Ramah Lansia Melihat kondisi tersebut, PERMAMPU mendorong pemerintah mengakui kesehatan seksual lansia sebagai bagian dari layanan kesehatan dasar. PERMAMPU meminta Puskesmas dan Posyandu Lansia menyediakan informasi serta pemeriksaan yang ramah. Selain itu, petugas perlu menjaga kerahasiaan dan menghindari sikap menghakimi. Selanjutnya, PERMAMPU mendorong keluarga dan komunitas memperkuat pendidikan seksual lintas usia. Pendidikan tersebut perlu mencakup anak, remaja, dewasa, pra-lansia, hingga lansia. PERMAMPU juga ingin membangun ruang aman bagi perempuan lansia melalui Credit Union, FKPAR, dan kader OSS&L. Ruang tersebut dapat membantu perempuan menyampaikan pengalaman sekaligus mengidentifikasi kebutuhan kesehatan seksual. Selain itu, PERMAMPU mendorong setiap daerah menyusun kebijakan lokal yang responsif terhadap hak seksual perempuan lansia. Susun Rencana Aksi di 10 Provinsi Untuk memperkuat advokasi, PERMAMPU dan lembaganya menyiapkan sejumlah rencana aksi. Pada tingkat eksternal, mereka akan memetakan persoalan spesifik hak seksual perempuan lansia di setiap wilayah. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi bahan advokasi kebijakan publik lokal. Selanjutnya, PERMAMPU akan mendorong integrasi layanan HKSR lansia bersama Dinas Kesehatan, Dinas P3A, Puskesmas, dan jaringan perempuan. PERMAMPU juga akan membangun konsolidasi menuju Hari Lansia Internasional pada 1 Oktober 2026. Sementara itu, pada tingkat internal, PERMAMPU akan menggelar diskusi tematik bersama perempuan lansia, kelompok CU, kader OSS&L, dan FKPAR. Mereka juga akan memetakan isu HKSR berdasarkan kelompok usia. Kelompok tersebut meliputi anak, remaja, dewasa, pra-lansia, dan lansia, termasuk perempuan dengan disabilitas. Selain itu, PERMAMPU akan memperkuat kapasitas Keluarga Pembaharu, terutama keluarga sandwich generation. Mereka juga akan mengembangkan materi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan seksual perempuan lansia. PERMAMPU: Kesehatan Seksual Bukan Hak yang Berhenti di Usia Tua PERMAMPU menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan hak kesehatan seksual dan reproduksi perempuan di seluruh siklus kehidupan. Menurut PERMAMPU, usia tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan kesehatan seksual seseorang. Karena itu, perempuan lansia dan pra-lansia perlu mendapat ruang aman, informasi yang benar, serta layanan kesehatan yang ramah. 'Merayakan Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026 bukan hanya tentang membicarakan kesehatan seksual. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat bahwa hak kesehatan seksual dan reproduksi melekat sepanjang kehidupan perempuan.' Medan, 7 September 2026 Dina Lumbantobing Koordinator Konsorsium PERMAMPU Catatan: PERMAMPU merupakan Konsorsium Perempuan Sumatera Mampu yang berfokus pada penguatan perempuan dan pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi di wilayah dampingan.

(0)Comments

 

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.