Bandung (ANTARA) -
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat melarang keras praktik pembakaran untuk pembersihan lahan dan mengeluarkan panduan aman seiring tercatat 228,07 hektare total area lahan hangus terbakar di 178 desa/kelurahan hingga 31 Agustus 2026.
Sebagai solusinya, BPBD merilis metode aman pembersihan lahan tanpa api berbasis pengolahan vegetasi menjadi kompos dan mulsa penutup tanah untuk mencegah risiko bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas selama musim kemarau.
"Cacahan pohon dapat dijadikan kompos dengan bantuan biodekomposer yang mempercepat pengomposan. Pembersihan lahan tidak harus mengandalkan api," kata Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun di Bandung, Selasa.
Untuk lahan skala kecil, dia mengimbau warga agar menggunakan alat manual seperti parang, sabit, dan cangkul, sementara lahan luas dapat menggunakan peralatan mekanis.
Vegetasi yang ditebang kemudian dikumpulkan, dicacah, lalu dimanfaatkan sebagai mulsa atau diolah menjadi bahan kerajinan harian.
Ancaman karhutla di wilayah Jawa Barat, diungkapkan Teten, saat ini berada pada tingkatan serius akibat kombinasi cuaca panas, minim curah hujan, serta tingginya kelalaian manusia seperti pembakaran lahan secara sengaja maupun buangan puntung rokok sembarangan.
Berdasarkan data BPBD Jabar hingga akhir Agustus 2026, terdapat tiga daerah dengan akumulasi area kebakaran lahan terluas, antara lain Kabupaten Sukabumi: seluas 49,20 hektare; Kabupaten Majalengka: 26,16 hektare dan Kabupaten Bandung 24,80 hektare.
"Masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan dan area lahan kering juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghentikan seluruh aktivitas pemicu percikan api demi menghentikan eskalasi bencana lingkungan di Jawa Barat," ujarnya.
(0)Comments