CURUP,Sinarfakta.com – Dunia jurnalistik ekonomi kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Wartawan tak hanya dituntut cepat menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu membaca data, memahami konteks ekonomi, memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), sekaligus memastikan informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Wartawan Ekonomi yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu di Hotel Safanak, Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Selasa (8/9/2026).
Mengusung tema Sinergi Bank Indonesia dan Media dalam Mengomunikasikan Kebijakan dan Mengangkat Potensi Ekonomi Daerah, kegiatan ini mempertemukan insan pers dengan sejumlah pemateri yang membahas perkembangan ekonomi, transformasi digital, literasi keuangan hingga pengelolaan uang rupiah.
Managing Editor kumparanBisnis, Angga Sukmawijaya, menjadi salah satu pemateri dengan topik 'Jurnalisme Ekonomi, Tantangan di Era Digital, dan Bagaimana Memanfaatkan AI'.
Angga menekankan bahwa pemberitaan ekonomi tidak boleh berhenti pada penyajian angka. Di balik data ekonomi terdapat konteks dan dampak yang perlu dijelaskan agar masyarakat dapat memahami informasi secara utuh.
Menurutnya, wartawan harus menjaga sejumlah prinsip utama, mulai dari objektivitas, akurasi, kejelasan data, konteks pemberitaan hingga transparansi sumber.
Di tengah perkembangan teknologi, AI dinilai dapat menjadi alat bantu bagi jurnalis. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses riset, menganalisis data, memantau perkembangan tren, membantu pengecekan fakta hingga mengadaptasi sebuah berita ke berbagai platform digital.
Namun, pemanfaatan AI tetap membutuhkan kontrol manusia. Wartawan tetap harus melakukan verifikasi dan memastikan informasi yang dipublikasikan memiliki dasar yang jelas.
Sementara itu, Andi Burhanuddin membahas perkembangan kebijakan Bank Indonesia yang semakin mengarah pada penguatan ekosistem digital.
Kemudahan transaksi digital yang semakin luas, menurutnya, juga harus diimbangi dengan kewaspadaan masyarakat. Sebab, perkembangan teknologi turut dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menjalankan berbagai modus penipuan.
Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah penyebaran tautan palsu yang mengatasnamakan pihak tertentu dan meminta masyarakat melakukan pembaruan data. Jika diklik, tautan tersebut berpotensi menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk memperoleh data pribadi.
Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, Bank Indonesia mengingatkan prinsip Tiga Jangan.
Jangan klik link atau tautan sembarangan. Jangan memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak jelas dan jangan mudah percaya dengan penawaran yang tidak masuk akal,' jelas Andi.
Materi lainnya disampaikan Farizal melalui program Cinta, Bangga, Paham Rupiah, yang salah satunya membahas bagaimana masyarakat memperlakukan dan mengelola uang rupiah dengan baik.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme penukaran uang rupiah yang mengalami kerusakan. Uang yang robek, basah, terbakar hingga rusak akibat rayap masih dapat ditukarkan sepanjang memenuhi ketentuan dan ciri keasliannya masih dapat dikenali.
Untuk uang yang secara fisik masih memiliki lebih dari dua pertiga bagian, nomor seri tidak menjadi persyaratan pemeriksaan. Sementara uang yang tersisa kurang dari dua pertiga bagian harus memiliki bagian yang dapat disambungkan serta nomor seri yang masih dapat diidentifikasi.
Farizal menegaskan bahwa penukaran uang rusak tidak mengubah nilai nominalnya. Apabila memenuhi persyaratan, uang tersebut akan diganti dengan nominal yang sama seperti nilai yang tertera pada uang.
Pelatihan ini menjadi ruang bagi wartawan untuk memperluas pemahaman terhadap isu ekonomi sekaligus memperkuat kemampuan dalam menerjemahkan kebijakan dan informasi teknis menjadi berita yang mudah dipahami masyarakat.
Di tengah pesatnya transformasi digital, sinergi antara Bank Indonesia dan media dinilai semakin penting. Informasi mengenai kebijakan ekonomi, keamanan transaksi digital maupun pengelolaan rupiah membutuhkan penyampaian yang tepat agar tidak menimbulkan salah persepsi di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, BI Bengkulu berharap insan pers dapat menjadi jembatan informasi yang kredibel, sehingga berbagai kebijakan dan potensi ekonomi daerah dapat dikomunikasikan secara akurat, relevan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pewarta: Izwandi Editor: Sri Rahmawati
Copyright © SINARFAKTA 2026
(0)Comments