Jakarta – Gejolak di pasar saham global kembali menguat pada Selasa (8/9/2026) akibat kombinasi tekanan harga energi, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga dinamika politik yang tidak menentu di Eropa.
Para investor di seluruh dunia kini mengadopsi sikap defensif sembari menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang diprediksi menjadi acuan utama bagi langkah kebijakan moneter bank sentral global ke depan.
Kenaikan harga minyak mentah Brent yang mencapai angka US$ 97,50 per barel menjadi salah satu pemicu utama kegelisahan pasar.
Angka ini merepresentasikan lonjakan sebesar 1,3% dan mencatatkan posisi harga tertinggi dalam tujuh pekan terakhir.
Berdasarkan laporan Reuters, reli harga minyak ini telah berlangsung secara berkelanjutan, dengan total kenaikan mencapai hampir 8% sepanjang pekan lalu.
Lonjakan drastis harga energi ini dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Teluk yang semakin memanas.
Pemerintah Iran menyatakan rencana untuk memberlakukan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Keputusan tersebut merupakan respons atas aksi pasukan Amerika Serikat yang sebelumnya telah menyerang tiga kapal tanker milik Iran.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan telah meluncurkan rudal balistik yang menyasar dua kapal Angkatan Laut Amerika Serikat.
Dampak dari lonjakan harga energi ini meluas ke sektor komoditas lain, terutama diesel yang sangat krusial bagi sektor transportasi, pelayaran, hingga manufaktur.
Harga diesel saat ini tercatat melambung hingga 90% lebih tinggi dibandingkan periode sebelum perang dimulai.
Kondisi tersebut memperburuk kekhawatiran mengenai potensi kenaikan inflasi global secara masif.
'Kesabaran bank sentral menghadapi guncangan energi telah mendukung harga aset dan siklus kredit. Namun, bank sentral kini mulai bergerak,' ujar Bruce Kasman, Kepala Ekonomi Global JPMorgan.
Di sisi lain, pasar Eropa tengah diguncang oleh ketidakpastian politik setelah kemenangan partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) di Saxony-Anhalt.
Kemenangan ini memicu kekhawatiran stabilitas jangka panjang mata uang euro, mengingat AfD memiliki kebijakan yang mencakup rencana meninggalkan mata uang tunggal tersebut.
'Perkembangan ini berbahaya bagi stabilitas jangka panjang mata uang tunggal,' tutur Kathleen Brooks, Direktur Riset XTB.
Sentimen negatif juga diperkuat oleh jajak pendapat di Prancis yang menunjukkan potensi kemenangan pemimpin sayap kanan Marine Le Pen dalam pemilihan presiden mendatang.
Akibatnya, mata uang euro mencatatkan kinerja terburuk terhadap dolar AS sepanjang tahun 2026 dengan pelemahan mencapai 1,1%.
Pasar kini menaruh perhatian penuh pada data inflasi konsumen Amerika Serikat yang akan segera dirilis pekan ini.
Data tersebut akan menjadi variabel penentu bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan mendatang.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September kini diprediksi mencapai 58%, sementara untuk bulan Oktober meningkat hingga 70%.
Ketidakpastian kebijakan moneter juga terlihat pada European Central Bank dan Bank of Japan yang diperkirakan akan mengambil langkah pengetatan serupa dalam waktu dekat.
Kondisi makroekonomi yang menekan ini membuat pergerakan bursa saham global tetap terbatas seiring sikap investor yang terus memantau setiap perkembangan geopolitik dan inflasi.
(0)Comments