DENPASAR, BALIPOST.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berpotensi memberikan dampak terhadap pariwisata dan perekonomian Bali, meskipun pusat erupsi berada jauh dari Pulau Dewata. Persoalan utama yang perlu diantisipasi pelaku pariwisata adalah gangguan konektivitas udara.
Demikian disampaikan Ketua Bali Tourism Board (BTB), I.B. Agung Partha Adnyana di Denpasar. Ia mengatakan dampak yang dirasakan Bali terutama berasal dari terganggunya konektivitas penerbangan, khususnya melalui Jakarta yang selama ini menjadi salah satu hub penting bagi pergerakan wisatawan menuju Bali.
'Dampaknya memang ada, terutama karena ketergantungan Bali terhadap konektivitas penerbangan melalui Jakarta. Ketika penerbangan di Jakarta terganggu, arus wisatawan menuju Bali ikut terdampak,' ujarnya Selasa (8/9).
Berdasarkan kondisi operasional per 6 September 2026, sejumlah penerbangan mengalami pembatalan maupun keterlambatan. Gangguan tersebut tidak hanya memengaruhi mobilitas penumpang, tetapi juga berpotensi menimbulkan kekhawatiran wisatawan terhadap perjalanan ke Bali.
Meski demikian, menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi secara proporsional. Erupsi Anak Krakatau berada di Selat Sunda dan bukan merupakan ancaman langsung terhadap destinasi wisata di Bali.
Dampak terhadap perekonomian Bali juga dinilai lebih banyak terjadi melalui rantai sektor pariwisata. Ketika penerbangan terganggu, wisatawan yang batal atau menunda perjalanan berpotensi mengurangi tingkat hunian hotel, konsumsi di restoran, kunjungan ke objek wisata, hingga penggunaan jasa transportasi lokal.
'Dampaknya bersifat kombinasi. Yang paling langsung tentu transportasi udara dan bandara. Tetapi kemudian ada efek berantai ke hotel, restoran, UMKM, transportasi dan berbagai usaha yang bergantung pada belanja wisatawan,' jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pariwisata memiliki peran besar dalam struktur ekonomi Bali. Karena itu, semakin lama gangguan penerbangan berlangsung, semakin besar pula potensi tekanan terhadap aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan pergerakan wisatawan.
Meski demikian, BTB menilai kondisi ini belum dapat disebut sebagai gangguan terhadap keamanan destinasi Bali. Komunikasi publik yang akurat diperlukan agar wisatawan memperoleh informasi yang benar mengenai kondisi terkini.
'Yang penting adalah memberikan informasi yang tepat. Bali tetap menjadi destinasi yang aman, sementara yang perlu diperhatikan adalah perkembangan konektivitas penerbangannya,' katanya. (Suardika/balipost)
(0)Comments