Ratusan Kaligrafer ASEAN di Gelaran Festival Kaligrafi Internasional Peringati 100 Tahun Gontor

Ratusan Kaligrafer ASEAN di Gelaran Festival Kaligrafi Internasional Peringati 100 Tahun Gontor
View on original source
Category: Entertainment
Share
Archive
Like
PAMERAN KALIGRAFI - Dr. KH. Didin Sirojuddin Abdul Razaq, M.Ag. (Baju biru), maestro kaligrafi di Indonesia saat menyusuri pameran Kaligrafi Internasional di Pondok Gontor di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jatim, Selasa (8/9/2026). Festival Kaligrafi Internasional digelar selama 3 hari. Ringkasan Berita: Pondok Modern Darussalam Gontor menggelar Festival Kaligrafi Internasional perayaan 100 tahun. Ajang megah ini menghadirkan ratusan kaligrafer serta maestro dari Indonesia dan mancanegara. Rangkaian acara meliputi lomba lintas negara, workshop kertas daluang, hingga pameran seni. SURYA.CO.ID, PONOROGO – Goresan indah tinta di atas kertas mewarnai perhelatan Festival Kaligrafi Internasional di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Kabupaten Ponorogo, Selasa (8/9/2026). Ajang bergengsi ini mempertemukan ratusan santri, seniman, hingga kaligrafer dari berbagai penjuru wilayah ASEAN di tengah momentum perayaan satu abad usia pesantren tersebut. Mengusung tema 'Menulis Peradaban, Merawat Warisan, Menuju Abad Kedua Gontor', perhelatan selama tiga hari hingga Kamis (10/9/2026) itu tak sekadar menjadi kompetisi, melainkan wadah pertukaran ilmu lintas negara. Baca juga: Sudah 903 KK Minta Pembaruan Data Status Kesejahteraan di Ponorogo, Berharap Desil Berubah Ajang Pertemuan Maestro Kaligrafi Internasional Pembukaan festival yang berlokasi di New Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) PMDG itu turut dihadiri sejumlah pakar dan maestro ternama. Dua maestro nasional yang hadir di antaranya Dr. KH. Didin Sirojuddin Abdul Razaq, M.Ag., serta Drs. Syaiful Adnan. Didin Sirojuddin menegaskan bahwa Gontor merupakan pelopor lembaga pendidikan pesantren yang memasukkan seni khot secara resmi ke dalam kurikulumnya. 'Satu-satunya pesantren yang resmi memasukkan kaligrafi sebagai kurikulum adalah Gontor, di antara tujuan seni kaligrafi adalah untuk mendidik kesabaran, mendidik ketekunan, dan mendidik kreativitas,' ungkap Didin, Selasa siang. Didin menambahkan bahwa perhelatan skala global itu menjadi bukti lompatan besar dalam perkembangan seni tulis Al-Qur'an di tanah air. 'Jadi, festival kaligrafi internasional di Gontor ini menjadi cahaya mercusuar untuk menunjukkan betapa sekarang itu kaligrafi di Indonesia berkembang dengan pesat dan revolusioner,' tegasnya. Senada dengan hal itu, maestro Drs. Syaiful Adnan memuji pameran itu sebagai ajang kaligrafi paling megah yang pernah diselenggarakan di Indonesia. 'Saya sejak '79 pameran di MTQ Semarang sampai sekarang ini yang luar biasa nih, sungguh, mudah-mudahan kaligrafi ke depan ya lebih memberikan pencahayaan untuk Indonesia,' paparnya. Baca juga: Gontor Masuki Abad Kedua, KH Hasan Sahal Serukan Jihad Pendidikan Rangkaian Acara dan Workshop Budaya Ketua Acara 100 Tahun Pondok Gontor, Prof. Dr. H. Khairul Umam, M.Ec., menjelaskan bahwa perhelatan itu diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan seabad Gontor. "Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan kaligrafer dari Indonesia, kawasan ASEAN, dan berbagai negara, pertemuan itu sekaligus membuka ruang pertukaran ilmu, pengalaman, dan wawasan antarkaligrafer," kata Khairul Umam. Sebanyak 279 peserta dari empat negara ASEAN yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand berkompetisi memperebutkan gelar di tiga kategori pameran.

(0)Comments

 

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.