MIMPI JADI KENYATAAN - Nabile Hasyimi Rafsyanjani, pemain SMAN 1 Jombang (Smansajoe), saat tampil dalam Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North di DBL Arena, Surabaya, Minggu (6/9/2026). Meski memiliki keterbatasan pada tangan kanan akibat kecelakaan saat kecil, Hasyimi tetap percaya diri mengejar mimpinya di dunia basket.
SURYA.co.id - Debut Nabile Hasyimi Rafsyanjani di panggung Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North menjadi sorotan. Pemain andalan SMAN 1 Jombang (Smansajoe) ini tidak hanya membawa misi kemenangan, tetapi juga membawa kisah perjuangan luar biasa yang melampaui keterbatasan fisik.
Mengenakan jersey bernomor punggung 23, Hasyimi tampil di DBL Arena Surabaya saat Smansajoe berhadapan dengan SMA Untung Suropati Sidoarjo (Unsur) pada Minggu (6/9). Meski sudah memberikan kemampuan terbaiknya, pemain muda ini mengaku masih memiliki banyak catatan evaluasi untuk performa pribadinya.
Evaluasi Diri Setelah Laga Perdana
Hasyimi secara terbuka mengakui bahwa permainannya masih jauh dari sempurna. Beberapa kesalahan mendasar seperti turnover dan pengambilan keputusan saat memegang bola menjadi perhatian utamanya.
"Saya merasa permainan tadi kurang maksimal. Masih banyak kesalahan sendiri dan turnover yang akhirnya berdampak pada semangat tim," ungkap Hasyimi dengan rendah hati.
Ia menyadari bahwa aspek passing dan durasi dribble yang terlalu lama menjadi "PR" besar. Ia kerap terlambat memberikan umpan karena terlalu fokus membawa bola, sehingga melewatkan rekan tim yang sudah dalam posisi kosong. Masukan ini sebenarnya sudah sering ia terima sejak duduk di bangku SMP.
Tragedi Masa Kecil yang Mengubah Hidup
Di balik kelincahannya di lapangan, Hasyimi menyimpan cerita pilu. Saat masih kelas II SD, ia mengalami kecelakaan tragis saat bersepeda bersama teman dan saudaranya. Sebuah kendaraan menyerempetnya dari samping, mengakibatkan cedera serius pada kepala dan tangan kanannya.
Insiden tersebut membuat jari manis tangan kanannya harus diamputasi karena tersangkut di bagian rem sepeda. Hasyimi bahkan sempat tak sadarkan diri dan harus menjalani masa pemulihan selama enam bulan.
"Dulu sempat merasa minder karena kondisi tangan saya sering jadi pusat perhatian orang lain. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dan tidak lagi merasa malu untuk bercerita kepada teman-teman baru," kenangnya.
Menemukan Jati Diri di Basket
Perjalanan Hasyimi menuju basket tidaklah instan. Karena riwayat cedera kepala, orang tuanya sempat khawatir ketika ia ingin aktif berolahraga. Sang ayah sempat mengarahkannya ke bola voli, namun Hasyimi justru sempat menjajal sepak bola, futsal, hingga bulu tangkis.
Cinta sejatinya pada basket baru bersemi saat ia kelas VII SMP. Ia merasa tertantang melihat kelincahan kakak kelasnya saat bermain di lapangan. Ketertarikan pada tantangan baru itulah yang membawanya masuk ke ekstrakurikuler basket dan terus menekuninya hingga SMA.
Prestasi Bersama Smansajoe
Kini, rasa minder itu telah berganti menjadi prestasi. Sebelum tampil di DBL Arena, Hasyimi telah membawa Smansajoe meraih beberapa kemenangan di berbagai kompetisi lokal di Jombang.
"Kami sempat menang tiga atau empat kali di Jombang. Ada kebanggaan tersendiri bisa berjuang dan menang bareng teman-teman," pungkasnya.
Penampilan di Honda DBL 2026 bukan sekadar pertandingan bagi Hasyimi, melainkan bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk tampil di salah satu kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia.
(0)Comments