Pakar ITB Ungkap Mengapa Dentuman Terdengar Berbeda di Bandung Raya, inilah penelitian tersebut sebelum Vulkanik

Pakar ITB Ungkap Mengapa Dentuman Terdengar Berbeda di Bandung Raya, inilah penelitian tersebut sebelum Vulkanik
View on original source
Category: SciTech
Share
Archive
Like
NKRINEWS45. COM | Bandung — Fenomena dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya dan Jawa Barat pada dini hari Sabtu, 5 September 2026, menjadi perhatian masyarakat. Suara keras yang muncul berulang tersebut bahkan dilaporkan disertai getaran pada kaca dan pintu rumah warga di sejumlah lokasi.(8/9/2026) Fenomena itu kemudian dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026. Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: jika dentuman berasal dari satu sumber, mengapa suara tersebut terdengar sangat keras di wilayah tertentu, lebih lemah di tempat lain, bahkan tidak terdengar sama sekali di lokasi lainnya? Pakar akustik lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa perbedaan tersebut dapat dipahami melalui mekanisme perambatan suara di ruang terbuka. Menurut Sugeng, suara dari satu sumber tidak selalu diterima dengan tingkat kekerasan yang sama oleh pendengar di lokasi berbeda. 'Suara yang berasal dari satu sumber belum tentu diterima dengan tingkat kekerasan yang sama di setiap tempat.' Ia menjelaskan bahwa perjalanan gelombang suara dipengaruhi berbagai faktor, bukan hanya jarak dari sumber. Kondisi atmosfer, temperatur, arah dan kecepatan angin, kontur permukaan bumi, hingga keberadaan bangunan dan vegetasi dapat mengubah bagaimana energi suara mencapai suatu wilayah. Bukan Sekadar Persoalan Jarak Secara sederhana, suara memang cenderung melemah ketika semakin jauh dari sumber. Dalam kondisi ideal, tingkat tekanan suara atau sound pressure level (SPL) dari sumber titik dapat berkurang sekitar 6 desibel setiap jarak dari sumber menjadi dua kali lipat. Akan tetapi, kondisi atmosfer dan lingkungan sebenarnya jauh lebih kompleks. Karena itu, menurut Sugeng, tidak tepat jika masyarakat menyimpulkan bahwa wilayah yang lebih dekat dengan sumber suara pasti akan mendengar dentuman lebih keras dibandingkan wilayah yang lebih jauh. Geometri antara sumber dan penerima, kondisi medan yang dilalui gelombang suara, serta keadaan atmosfer ketika suara merambat dapat menyebabkan tingkat suara yang diterima setiap wilayah berbeda. 'Jarak memang menjadi salah satu faktor utama, tetapi bukan satu-satunya,' jelasnya. Atmosfer Malam Dapat Memengaruhi Perambatan Waktu terjadinya dentuman juga menjadi bagian penting dalam menjelaskan fenomena tersebut. Pada malam hari, perubahan temperatur di lapisan atmosfer dapat menciptakan kondisi yang memengaruhi arah perambatan gelombang suara. Gelombang suara tidak selalu bergerak secara sederhana dalam garis lurus dari sumber menuju pendengar. Dalam kondisi atmosfer tertentu, gelombang suara dapat mengalami refraksi atau pembiasan, sehingga energi suara dapat diarahkan kembali menuju permukaan bumi. Akibatnya, terdapat wilayah yang menerima energi suara lebih besar dibandingkan wilayah lain. Sebaliknya, pada lokasi tertentu dapat terbentuk kondisi yang menyebabkan suara menjadi sangat lemah atau bahkan tidak terdengar. Fenomena tersebut dikenal dalam kajian akustik sebagai acoustic shadow zone atau zona bayangan suara. Kondisi inilah yang dapat menjelaskan mengapa suara dentuman dari sumber yang sama dapat terdengar berbeda-beda di berbagai wilayah. Dentuman dan Aktivitas Gunung Anak Krakatau Fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut erupsi menerus Gunung Anak Krakatau dimulai sekitar pukul 23.07 WIB pada 4 September 2026. Aktivitas erupsi berlangsung hingga sekitar 5 September 2026 pukul 04.40 WIB. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan adanya kesesuaian waktu antara aktivitas erupsi dengan laporan dentuman serta getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat. Data dari stasiun pemantauan juga disebut mendukung dugaan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan gelombang akustik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga, sehingga masyarakat diminta mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi dan PVMBG. BMKG Sempat Menyatakan Penyebab Belum Dapat Dipastikan Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 5 September menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan awal tidak menemukan aktivitas gempa bumi di Bandung Raya yang dapat menjelaskan dentuman tersebut. BMKG juga memeriksa data aktivitas petir, kondisi atmosfer, dan magnet bumi. Dalam siaran persnya, BMKG menyebut arah angin saat kejadian menjadi salah satu alasan mengapa kemungkinan rambatan suara erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Bandung pada saat itu dinilai kecil. BMKG juga menegaskan bahwa sejumlah anomali yang tercatat masih memerlukan kajian dan belum dapat secara langsung dinyatakan sebagai penyebab dentuman. Perkembangan berikutnya menunjukkan Badan Geologi kemudian menyatakan bahwa kesesuaian waktu erupsi dan sinyal pemantauan di Jawa Barat mendukung keterkaitan dentuman dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sementara ITB memberikan penjelasan dari sisi fisika akustik mengenai bagaimana suara dari sumber yang jauh dapat diterima berbeda di berbagai wilayah. Mengapa Bandung Bisa Mendengar, Wilayah Lain Tidak? Penjelasan akustik ITB memberikan gambaran bahwa keras atau lemahnya suara yang diterima masyarakat tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menentukan jarak atau lokasi sumber suara. Suara yang berasal dari sumber yang sama dapat menempuh jalur berbeda akibat kondisi atmosfer. Kontur wilayah juga dapat memengaruhi perjalanan gelombang suara. Bangunan, pepohonan, lembah, perbukitan, serta karakter permukaan tanah dapat menyerap, memantulkan, atau menghalangi sebagian energi suara. Dengan demikian, warga yang berada di wilayah berbeda dapat memperoleh pengalaman akustik yang berbeda meskipun mendengar peristiwa yang sama. Fenomena ini sekaligus menjelaskan mengapa laporan masyarakat mengenai dentuman tidak selalu seragam. Tidak Berarti Ada Banyak Sumber Dentuman Perbedaan suara yang diterima masyarakat juga tidak serta-merta membuktikan adanya banyak sumber dentuman. Dalam ilmu akustik, satu sumber suara dapat menghasilkan tingkat tekanan suara yang berbeda pada titik penerima yang berbeda. Karena itu, laporan warga yang menyebut dentuman sangat keras di satu wilayah sementara terdengar samar di wilayah lain masih dapat dijelaskan melalui karakteristik perambatan gelombang suara. Pakar vulkanologi ITB juga menjelaskan bahwa perubahan temperatur serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu dapat menyebabkan pembiasan gelombang suara dan menciptakan zona bayangan suara. Masyarakat Diminta Mengikuti Informasi Resmi Fenomena dentuman Bandung Raya menjadi contoh bagaimana aktivitas vulkanik yang terjadi sangat jauh dapat menimbulkan fenomena akustik di wilayah lain. Meski demikian, masyarakat diminta tidak mengaitkan dentuman dengan berbagai spekulasi yang tidak memiliki dasar ilmiah. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi. Pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kondisi atmosfer dan kegempaan juga terus dilakukan oleh lembaga terkait. Dari sisi akustik, penjelasan ITB menegaskan bahwa suara tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh sumbernya, tetapi juga oleh bagaimana atmosfer dan lingkungan membentuk perjalanan gelombang suara dari sumber hingga sampai ke telinga manusia. Dengan demikian, perbedaan keras-lemahnya dentuman yang dirasakan warga Bandung Raya bukan sesuatu yang aneh secara ilmiah. Kondisi atmosfer malam, temperatur, angin, kontur wilayah, serta berbagai penghalang di sepanjang jalur rambatan dapat membuat satu suara terdengar sangat jelas di satu tempat dan jauh lebih lemah di tempat lainnya. Tim 3 Pers PLUS – Terbitkan dari Jakarta (Widodo,S.Psi,C.BJ,CCR)* Redaksi | 8 September 2026

(0)Comments

 

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.