harapanrakyat.com,- Peristiwa mengejutkan terjadi di kawasan Selat Sunda. Rombongan wartawan dari berbagai media hilang kontak ketika melakukan peliputan erupsi Anak Krakatau.
Rombongan tersebut kehilangan komunikasi sejak Senin (7/9/), saat berlayar menggunakan kapal untuk mendokumentasikan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Kronologi Rombongan Wartawan Hilang Kontak
Baca Juga: Fase Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Berakhir, Status Masih Siaga Level III
Rombongan wartawan ini memulai perjalanan mereka dari Dermaga Marina, Lippo Carita, yang terletak di Desa Sukajadi, Carita, Kabupaten Pandeglang. Kapal yang mereka tumpangi bertolak pada hari Senin, sekitar jam 14.00 WIB.
Berdasarkan estimasi waktu perjalanan laut, rombongan seharusnya tiba di perairan Gunung Anak Krakatau pada jam 16.00 WIB.
Perjalanan ini direncanakan dengan sistem pergi-pulang langsung. Sehingga mereka diperkirakan sudah merapat kembali ke dermaga asal sekitar jam 20.00 WIB. Namun, hingga Senin malam, rombongan tersebut tidak kunjung tiba di pelabuhan.
Sandi Wyasa, Kepala Desa Sukajadi, mengonfirmasi kabar hilangnya kontak dengan speedboat yang membawa rombongan wartawan tersebut. Selain kelima jurnalis, kapal juga membawa seorang pemandu wisata dan dua orang kru kapal.
Komunikasi terakhir yang berhasil tercatat berasal dari sang pemandu wisata, Heri Bonsay. Heri sempat mengirim sebuah foto ke istrinya pada jam 18.14 WIB untuk mengabarkan bahwa kondisi mereka di Krakatau dalam keadaan aman. Namun, setelah pesan singkat itu dikirimkan, seluruh kontak komunikasi dengan kapal tersebut terputus sepenuhnya.
Daftar Wartawan dan Kru Kapal yang Hilang Kontak
Baca Juga: Polres Cimahi Bagikan Masker, Lindungi Warga dari Bahaya Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau
Hingga saat ini, proses identifikasi memastikan terdapat delapan orang dalam kapal yang hilang kontak, dengan rincian sebagai berikut:
Muhammad Bagus Khoirunas (Wartawan Antara) Arie Basuki (Wartawan Merdeka) Yudis (Wartawan iNews) Daus (Wartawan Anadolu) Donal (Wartawan Freelance) Heri Bonsay (Pemandu Wisata / Tour Guide) Dua orang kru kapal (belum disebutkan identitasnya secara detail).
Kendala Cuaca Ekstrem dan Operasi Penyelamatan Basarnas
Upaya pencarian langsung Basarnas lakukan begitu kabar rombongan wartawan hilang kontak terkonfirmasi. Kendati demikian, tim penyelamat di lapangan sempat menghadapi kendala besar berupa faktor cuaca buruk.
Menurut Sandi Wyasa, hembusan angin Selatan yang sangat kencang di perairan Selat Sunda menjadi hambatan utama.
Tim Basarnas sempat mencoba melakukan pencarian awal dari wilayah Carita. Namun, karena kondisi kapal yang tim gunakan terbuka dan waktu sudah menjelang malam, mereka terpaksa putus arah dan kembali demi keselamatan. Di sisi lain, tim penyelamat dari Merak langsung bergerak cepat menyisir area hilangnya kapal.
Kasi Ops Basarnas Banten, Rizky Dwianto menegaskan, operasi pencarian terus diintensifkan hingga Selasa (8/9/2026). Untuk mengoptimalkan penyisiran di wilayah Selat Sunda, Basarnas Banten telah mengerahkan dua armada kapal penyelamat utama, Kapal RIB 02 dan KN. SAR Tetuka.
Baca Juga: Menelusuri Catatan dan Sejarah Terbentuknya Anak Krakatau di Selat Sunda
Pihak pemerintah desa setempat dan keluarga sangat berharap agar seluruh penumpang serta kru kapal dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.
Meskipun status resmi mereka saat ini masih dinyatakan sebagai 'hilang kontak' dan bukan dinyatakan hilang secara definitif, seluruh tim penyelamat terus bekerja keras melakukan penyisiran di titik-titik krusial. (R3/HR-Online/Editor: Eva)
(0)Comments