Menjaga Akar, Menyiapkan Masa Depan
Oleh : Marini Amalia Ocvianti, S.Si., M.Pd
Pelaksana Harian Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta
Sebagai guru di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta sekaligus mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2, saya semakin menyadari bahwa memahami Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan menghafal tahun berdirinya, nama tokohnya, atau mengenal amal usahanya.
Yang jauh lebih penting adalah memahami semangat yang melahirkan Muhammadiyah dan bertanya: apakah semangat itu masih hidup dalam diri kita hari ini?
Muhammadiyah lahir dari kegelisahan Kiai Ahmad Dahlan melihat keadaan umat. Pada awal abad ke-20, masyarakat menghadapi keterbatasan pendidikan, kemiskinan, kebodohan, dan persoalan sosial-keagamaan yang tidak sederhana.
Kiai Dahlan tidak berhenti pada kritik. Beliau mengambil jalan tindakan melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Beliau juga berani mempertemukan ilmu agama dengan pengetahuan umum dalam sistem pendidikan yang lebih modern.
Bagi saya, di sinilah kekuatan utama Muhammadiyah sejak awal: agama harus melahirkan tindakan.
Kisah pengajaran Surat Al-Ma'un menjadi contoh yang sangat kuat. Para murid tidak cukup diminta membaca atau menghafal ayat. Mereka diajak memahami maknanya dan mewujudkannya dalam kepedulian kepada anak yatim, fakir miskin, dan masyarakat yang membutuhkan.
Dari sini kita belajar bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti di ruang ibadah, tetapi harus hadir dalam kenyataan hidup.
Kini Muhammadiyah sudah tumbuh menjadi gerakan besar. Sekolah, rumah sakit, universitas, panti sosial, dan berbagai amal usaha hadir di banyak tempat. Apa yang dahulu mungkin dianggap sebagai gagasan terlalu besar, hari ini telah menjadi kenyataan.
Namun, justru karena Muhammadiyah sudah besar, muncul pertanyaan yang menurut saya penting: apakah besarnya amal usaha juga selalu diikuti oleh besarnya ruh perjuangan?
Gedung boleh semakin megah, teknologi semakin canggih, prestasi semakin tinggi. Tetapi semua itu belum cukup jika nilai keikhlasan, keberpihakan kepada masyarakat, semangat tajdid, dan keberanian untuk menjawab persoalan zaman mulai melemah.
Risalah Islam Berkemajuan mengingatkan bahwa Muhammadiyah harus terus bergerak dengan berpijak pada tauhid, Al-Qur'an dan Sunnah, sekaligus menghidupkan ijtihad, tajdid, sikap wasathiyah, dan kepedulian terhadap kehidupan.
Karena itu, menjadi berkemajuan bukan sekadar mengikuti tren baru. Berkemajuan berarti mampu membaca perubahan zaman dengan tetap memiliki arah nilai yang jelas.
Tantangan masa depan tentu berbeda dengan masa Kiai Dahlan. Kita berhadapan dengan kecerdasan artifisial, perkembangan teknologi digital, perubahan pola hidup generasi muda, krisis lingkungan, tantangan moral, dan persaingan global.
Karena itu, Muhammadiyah tidak cukup hanya mempertahankan apa yang sudah ada. Muhammadiyah harus kembali berani memikirkan hal-hal yang belum ada.
Dalam konteks pendidikan, saya melihat tantangan itu sangat nyata di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi tempat murid belajar untuk mendapatkan nilai tinggi dan masuk perguruan tinggi favorit.
Sekolah harus menjadi tempat lahirnya manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, kritis, kreatif, dan memiliki kepedulian sosial.
Di sinilah pendidikan bertemu dengan perkaderan.
Saya membayangkan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta sebagai laboratorium kader Muhammadiyah masa depan. Murid perlu dibiasakan tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga menjadi pemecah masalah.
Mereka perlu belajar melakukan riset, membuat inovasi, memanfaatkan teknologi dan AI secara bertanggung jawab, berdialog dengan perbedaan, serta terlibat dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Perkaderan juga tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi ideologi. Nilai Muhammadiyah akan lebih kuat jika dialami secara langsung.
Murid perlu melihat teladan dari gurunya, merasakan budaya sekolah yang adil dan manusiawi, serta diberi ruang untuk mengambil peran.
Sebagai guru, saya pun merasa tantangan itu kembali kepada diri sendiri. Tidak mungkin kita berharap murid memiliki semangat tajdid jika gurunya berhenti belajar.
Tidak mungkin kita ingin melahirkan kader yang peduli jika gurunya tidak menunjukkan keberpihakan kepada sesama. Guru di sekolah Muhammadiyah bukan hanya pengajar, tetapi juga pembawa nilai.
Belajar sejarah Muhammadiyah membuat saya memahami bahwa warisan terbesar Kiai Dahlan bukanlah sekadar sekolah, rumah sakit, atau organisasi. Warisan terbesarnya adalah cara berpikir dan keberanian bertindak.
Maka, tugas kita hari ini bukan menyalin apa yang dilakukan Kiai Dahlan pada zamannya. Tugas kita adalah melanjutkan semangatnya untuk menjawab persoalan zaman kita.
Sejarah memberi kita akar dan ideologi memberi arah. Pendidikan menyiapkan kader. Tajdid memberi keberanian untuk melangkah ke masa depan.
Itulah Muhammadiyah yang saya bayangkan: kuat karena sejarahnya, hidup karena nilainya, dan tetap relevan karena berani memperbarui dirinya.
(0)Comments