MBAH RONO - Surono menilai erupsi Anak Krakatau adalah proses alami pertumbuhan gunung, namun posisi di kaldera membuat risiko longsor tetap ada. Ia menekankan bahaya abu vulkanik yang bisa mencapai 10.000 meter dan mengganggu penerbangan. Mitigasi diperlukan agar masyarakat memahami zona rawan bencana dan dampaknya.
Ringkasan Berita: Surono menilai erupsi Anak Krakatau adalah proses alami pertumbuhan gunung, namun posisi di kaldera membuat risiko longsor tetap ada.
Ia menekankan bahaya abu vulkanik yang bisa mencapai 10.000 meter dan mengganggu penerbangan.
Mitigasi diperlukan agar masyarakat memahami zona rawan bencana dan dampaknya
TRIBUNNEWS.COM - Pakar geologi dan gunung berapi Surono menilai kondisi Gunung Anak Krakatau perlu dipahami lebih lanjut, terutama terkait mitigasi terhadap potensi erupsi dan dampaknya.
Surono, yang akrab disapa Mbah Rono, mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau merupakan bagian dari proses pertumbuhan gunung api tersebut.
Namun, kondisi lingkungan dan posisi Anak Krakatau di kawasan kaldera Krakatau membuat sejumlah risiko tetap perlu diperhatikan.
Hal itu disampaikan Surono saat ditemui di sela kegiatan seminar di UNS Tower, Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026).
Baca juga: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, PJJ di Lampung Diperpanjang hingga 10 September
Anak Krakatau Terus Bertumbuh
Surono menjelaskan Gunung Anak Krakatau mulai muncul pada 1930 dan mengalami perubahan bentuk serta ukuran seiring aktivitas erupsi.
Menurut dia, material hasil erupsi yang menumpuk di sekitar puncak dan tubuh gunung membuat Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan.
"Begini awal mulanya, krakatau anak itu baru muncul 1930, kan dia perlu tumbuh besar. Oleh karena itu harus sering meletus, material letusan. Material letusannya dia tumpuk di sekitar puncak dan tubuhnya. Dia harus muntah dan ditaruh di sekitar tubuh dan harus sering meletus karena kodrat alami," terang Surono saat ditemui awak media.
Surono juga membedakan karakter erupsi Anak Krakatau dengan Krakatau yang menjadi induknya. Menurut dia, potensi tsunami tidak otomatis terjadi setiap kali Anak Krakatau mengalami erupsi.
"Dulu memang nggak masalah gitu kan, nah semakin lama semakin gede letusannya dia sudah belajar dengan letusan dan sekarang semakin tinggi asapnya. Asapnya ada yang halus ada yang kasar. Yang kasar dan berat dipakai untuk tubuh dia supaya tinggi dan besar. Saya tidak takut tentang tsunami karena letusan anak krakatau itu bukan letusan ibunya," imbuhnya.
Meski demikian, Surono mengatakan posisi Anak Krakatau yang tumbuh di sekitar kaldera Krakatau menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama terkait potensi longsoran.
"Hanya saja kan ibunya dulunya dulu meletus lingkarannya seperti itu kalderanya. Nah sekarang anaknya tumbuh di pinggir situ, jadi agak sedikit tidak stabil. Tahun 2018 dia longsor, itulah terjadi tsunami. Kita sudah curiga dari dulu, maka tsunaminya hanya ke arah tertentu, ke arah Banten saat itu," sambung Surono.
Tsunami pada 2018 memang terjadi setelah sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau mengalami longsor ke laut. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam mitigasi risiko di sekitar gunung.
Abu Vulkanik dan Risiko terhadap Penerbangan
Selain potensi longsoran, Surono menyoroti sebaran abu vulkanik sebagai salah satu dampak erupsi yang perlu diperhitungkan.
Menurut dia, material vulkanik berukuran lebih besar cenderung jatuh di sekitar tubuh gunung, sedangkan partikel yang lebih halus dapat terbawa angin ke wilayah yang lebih jauh.
"Nah sekarang letusannya agak tinggi, yang kasar jatuh di tubuhnya. Yang halus naik ke atas terbang dia ke arah mana tergantung angin. Sialnya sekarang tidak ada hujan. Dia ini nggak turun-turun, dia terbang kemana-mana. Bahayanya bagi penerbangan, begitu kesedot ke mesin jet, begitu sampai ke ruang mesin akan mengganggu pasokan oksigen," kata dia.
(0)Comments