PE

Pernita Hestin Untari

Erupsi Anak Krakatau Meningkat, BRIN: Belum Ada Anomali Pemicu Tsunami

Image
Aktivitas Anak Krakatau meningkat, namun BRIN menyatakan belum ada anomali yang memicu tsunami. Pemantauan terus dilakukan dengan sistem IDSL/PUMMA. Bisnis.com, JAKARTA— Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan belum terdapat anomali yang menunjukkan potensi bencana tambahan seperti tsunami, meskipun aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan sejak 4 September 2026. Pemantauan tersebut dilakukan menggunakan sistem monitoring IDSL/PUMMA yang berada di Rakata, atau di sekitar kompleks Gunung Anak Krakatau. Periset dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi di bawah Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Semeidi, mengatakan tim pemantauan di Selat Sunda terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau serta potensi anomali muka air sejak 4 September 2026 hingga saat ini. 'Sejauh ini, walaupun ada peningkatan aktivitas gunung api sebagaimana dilaporkan PVMBG, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami,' kata Semeidi dalam keterangan pada Senin (7/9/2026). Semeidi menjelaskan IDSL/PUMMA di Rakata merupakan satu-satunya sistem monitoring volcano-tsunami di Selat Sunda. Sistem tersebut menjembatani pemantauan antara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurutnya, lokasi IDSL/PUMMA yang berada dekat dengan sumber potensi tsunami memungkinkan sistem tersebut mendeteksi perubahan kondisi secara cepat. Keberadaan sistem ini juga mendukung pemantauan dan peringatan dini potensi volcano-tsunami di Selat Sunda. Dia mengatakan sistem monitoring volcano-tsunami saat ini juga memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan 2018. Hal itu didukung oleh cakupan jaringan seluler GSM dari Telkomsel serta Satelit Telekomunikasi BAKTI di area Krakatau. 'Sehingga masyarakat atau nelayan bisa melaporkan langsung kondisi di sana,' ucapnya. Di sisi lain, Semeidi menjelaskan dentuman keras dan getaran yang terasa di sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat kemungkinan bersumber dari ledakan atau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, aktivitas tersebut sejauh ini belum cukup kuat untuk mengganggu muka air sehingga tidak menunjukkan potensi terjadinya atmospheric tsunami. Dia menambahkan, IDSL/PUMMA pernah mendeteksi Atmospheric-tsunami Hunga Tonga pada 2022 di Indonesia. Fenomena tersebut terjadi karena ledakan gunung api di wilayah Pasifik Selatan sangat besar. 'Seluruh data dan peringatan tsunami saat itu juga tersampaikan ke BMKG,' ujarnya. Semeidi pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat diharapkan mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi tsunami hanya melalui informasi resmi dari lembaga berwenang. 'Tim akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi, apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat, informasi dan peringatan akan disampaikan melalui kanal resmi,' katanya.
Erupsi Anak Krakatau Meningkat, BRIN: Belum Ada Anomali Pemicu Tsunami
View on original source
Share
Archive
Like

(0)Comments

 

Related Opinion

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.