Siswi Sekolah Rakyat Sragen Meninggal, Kades Minta Evaluasi Kesehatan Asrama
Kepala Desa Kedawung, Riki Antono, meminta pengelola Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Sragen mengevaluasi layanan kesehatan di asrama setelah seorang siswi asal desanya meninggal dunia akibat sakit.
Riki juga mendorong pengelola membuka forum diskusi untuk mengevaluasi penanganan kesehatan siswa pascakejadian tersebut.
BACA JUGA: Kabar Duka, Siswi Sekolah Rakyat Sragen Meninggal
Sebagai kepala desa asal almarhumah, Riki meminta pengelola SR Terintegrasi 1 Sragen melakukan evaluasi serius terhadap fasilitas dan layanan kesehatan siswa.
Menurut dia, kebutuhan layanan medis perlu mendapat perhatian khusus karena para siswa tinggal di asrama dan jauh dari pengawasan langsung orang tua.
Selain itu, Riki menyoroti tingginya mobilitas siswa yang harus berobat. Ia menyebut hampir setiap hari sekitar lima hingga 10 siswa Sekolah Rakyat Sragen harus pergi ke puskesmas dengan kendaraan operasional sekolah.
'Kami minta ada evaluasi mendalam di bidang kesehatan. Kalau bisa, di dalam sekolah atau asrama didirikan klinik khusus dengan penanganan medis yang memadai. Mengingat anak-anak di sana tinggal di asrama dan jauh dari pengawasan langsung orang tua,' tegas Riki, Senin (7/9/2026).
Riki Usul Sekolah Punya Klinik
Karena itu, Riki mengusulkan pengelola Sekolah Rakyat Sragen menyediakan klinik khusus di lingkungan sekolah atau asrama.
Fasilitas tersebut, menurut dia, dapat mempercepat penanganan ketika siswa mengalami gangguan kesehatan.
Di sisi lain, Riki juga meminta pengelola memperhatikan kondisi kesehatan calon siswa saat proses penerimaan.
Ia menilai riwayat kesehatan perlu menjadi salah satu pertimbangan agar siswa mendapat dukungan medis sesuai kebutuhannya selama tinggal di asrama.
'Kalau memang kondisi fisik atau kesehatannya tidak memungkinkan untuk tinggal di asrama, sebaiknya menjadi bahan pertimbangan khusus agar tidak memaksakan anak tinggal di sana tanpa pengawasan medis ekstra,' tambahnya.
Siswi SR Sragen Meninggal Dunia
Sebelumnya, siswi SR Terintegrasi 1 Sragen, Anisa Nur Fadilah (16), kelas XI-A, meninggal dunia di RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen pada Minggu (6/9/2026) siang. Keluarga kemudian memakamkan Anisa pada Minggu malam.
Anisa merupakan siswi tahun ajaran baru asal Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, Sragen. Ia sempat mengalami batuk, pilek, dan demam saat berada di asrama.
Keluarga kemudian menjemput Anisa setelah sang anak meminta berobat di rumah. Setelah kondisinya memburuk, keluarga membawa Anisa ke RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen. Anisa mengalami demam tinggi hingga kejang sebelum meninggal dunia.
Riki mengatakan Anisa memiliki riwayat hipertiroid sebelum masuk Sekolah Rakyat Sragen.
Saat masih mengikuti kegiatan di Balai Latihan Kerja (BLK), Anisa juga sempat menjalani perawatan di RS Amal Sehat sebanyak tiga kali.
Menurut Riki, penderita hipertiroid idealnya menjalani pengobatan secara rutin. Ia menduga Anisa sempat berhenti mengonsumsi obat sebelum kondisi kesehatannya memburuk.
Atas kejadian tersebut, Riki berharap pengelola SR Terintegrasi 1 Sragen segera mengevaluasi sistem layanan kesehatan, fasilitas medis, serta mekanisme pemantauan kesehatan siswa di asrama.
Ia menilai langkah itu penting untuk mencegah kejadian serupa dan memberikan rasa aman bagi siswa serta keluarga. (*)
(0)Comments