AG

Agung Purwanto

Perburuan Masker Meningkat Akibat Abu Vulkanik Krakatau di Jakarta

Image
Jakarta diterpa dampak abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, memicu lonjakan permintaan masker di kalangan masyarakat. Fenomena ini terlihat jelas di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, di mana warga berbondong-bondong mencari perlindungan pernapasan, sementara para pedagang merasakan peningkatan omzet yang signifikan. Pantauan langsung di lapangan pada Senin, 7 September 2026, menunjukkan kepadatan luar biasa di lorong-lorong Pasar Pramuka. Banyak warga terlihat berkeliling, meneliti berbagai jenis masker yang ditawarkan. Kondisi ini membuat akses di beberapa lorong menjadi sempit, hanya menyisakan ruang untuk dilewati satu orang karena banyaknya pengunjung yang mendatangi lapak penjual masker. Salah seorang pedagang, yang diidentifikasi sebagai Gilang, mengungkapkan bahwa tren pembelian masker mulai meningkat sejak hari Minggu, 6 September. Ia menjelaskan bahwa stok masker di kiosnya mulai menipis karena permintaan yang melonjak tajam, bahkan para distributor pun mengalami lonjakan pesanan. "Sejak kemarinlah, pokoknya penjualan masker semakin meningkat. Konsumen juga banyak yang mencari, permintaannya memang sedang tinggi," ujar Gilang saat ditemui di Pasar Pramuka. Ia menambahkan, "Sekarang stoknya sudah mulai habis semua. Tinggal sedikit sekali. Dari distributornya juga sudah tidak ada." Bahkan, Gilang mengaku telah berhasil menjual ratusan boks masker. Ia mencatat bahwa masker jenis N95 menjadi pilihan utama yang paling diminati oleh para pembeli. "Masker N95 paling banyak dicari, masker karet earloop biasa juga banyak. Sekitar kemarin saja, saya menjual 100 hingga 200 boks," ungkapnya. Kondisi kelangkaan barang dan tingginya permintaan ini secara otomatis memicu kenaikan harga. Gilang mengonfirmasi bahwa harga masker di kiosnya mengalami kenaikan sekitar 5 persen dari harga normal. "Ada kenaikan harga sedikit dari harga biasa, pasti ada kenaikan. Karena kelangkaan barang dan permintaan yang banyak, pasti ada kenaikan dari harga biasanya. Semua pada naik, tapi tidak banyak. Sekitar 5 persenanlah," jelasnya. Pedagang lainnya, Putri, turut merasakan lonjakan penjualan. Ia menyatakan bahwa banyak warga mulai membeli masker secara massal semenjak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau terdeteksi menyebar hingga wilayah Jakarta. "Dari kemarin waktu abu Krakatau sampai sini sudah ramai," ujar Putri. Ia menjual berbagai jenis masker dengan harga bervariasi, masker jenis duckbill dibanderol seharga Rp 40.000 per boks, sementara masker bedah karet dijual seharga Rp 45.000 per boks, masing-masing berisi 50 buah. "Kemarin sudah laku lebih dari 100 boks. Hari ini belum sempat menghitung lagi," tambahnya. Sementara itu, berdasarkan data citra satelit yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih terpantau menyebar ke wilayah Jakarta hingga pagi hari pada Senin, 7 September. Namun, pada sore harinya, Jakarta dilaporkan sudah tidak lagi masuk dalam daftar wilayah terdampak langsung oleh abu vulkanik. BMKG menginformasikan bahwa pada pukul 15.00 WIB, pergerakan abu vulkanik telah bergeser menjauhi arah barat daya dari lokasi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Meskipun demikian, BMKG mengingatkan bahwa masih ada beberapa wilayah lain yang berpotensi terdampak. Masyarakat di wilayah yang terkena dampak disarankan untuk selalu memastikan informasi resmi dari BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta instansi terkait lainnya. Selain itu, penting bagi masyarakat untuk memperhatikan kondisi kualitas udara dan jarak pandang di sekitar mereka. Analisis citra RGB Himawari-9 menunjukkan adanya dua pola sebaran abu vulkanik yang berbeda. Sebaran pertama berada pada lapisan rendah, yaitu dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki (sekitar 4,57 km). Lapisan ini berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah yang terdampak, dengan pergerakan ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang teridentifikasi terkena dampak dari sebaran ini meliputi Banten bagian barat, Lampung, Bengkulu, serta sebagian Samudra Hindia di sebelah barat wilayah-wilayah tersebut. Sebaran kedua terdeteksi pada lapisan tinggi, yaitu dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki (sekitar 15,24 km). Lapisan abu ini sangat krusial bagi dunia penerbangan karena berada pada jalur lintasan pesawat udara. Pergerakan sebaran kedua ini dilaporkan mengarah ke barat daya hingga barat, mencakup area Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten. Disclaimer This article was rewritten using AI technology based on information from news.detik.com without altering the facts of the original article.
Perburuan Masker Meningkat Akibat Abu Vulkanik Krakatau di Jakarta
View on original source
Share
Archive
Like

(0)Comments

 

Related Opinion

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.