GR

Grahanusa Mediatama

Risiko Geopolitik Meningkat, Ruang Penguatan Rupiah Diproyeksi Terbatas

Image
ILUSTRASI. Untuk perdagangan Selasa (8/9/2026), rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.(AFP/YASUYOSHI CHIBA) Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen eksternal. Meski rupiah di pasar spot ditutup menguat tipis pada perdagangan Senin (7/9/2026), meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi membatasi penguatan rupiah pada perdagangan berikutnya. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada perdagangan Senin (7/9/2026) ditutup menguat tipis 0,01% secara harian ke level Rp 17.640 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah pada Senin (7/9/2026) berada di level Rp 17.653 per dolar AS, melemah 0,10% dibandingkan posisi Jumat (4/9) sebesar Rp 17.636 per dolar AS. Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah pada perdagangan Senin (7/9/2026) didukung oleh kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus. Baca Juga: NAB Reksadana Naik Tipis, Net Redemption Rp 8,5 Triliun per Agustus 2026 'Rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS setelah data menunjukkan kenaikan cadangan devisa Indonesia pada bulan Agustus. Namun kenaikan terbatas, dengan investor menimbang eskalasi geopolitik di Timteng dan mengantisipasi serentetan data-data ekonomi penting baik dari dalam yang di antaranya kepercayaan konsumen dan penjualan ritel serta data inflasi AS pekan ini,' ujar Lukman kepada Kontan, Senin (7/9/2026). Menurut Lukman, investor juga akan mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta harga minyak mentah dunia. Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menilai penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik masih menjadi tekanan bagi rupiah. 'Pekan ini sepertinya menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa stimulus moneter tidak dibayar dengan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing,' kata Ibrahim. Baca Juga: ICX Proyeksikan Penghimpunan Dana Bisa Tumbuh 243% hingga Akhir Tahun Dari eksternal, eskalasi konflik antara AS dan Iran meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan arus energi melalui Selat Hormuz. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati pasar karena dapat mempengaruhi harga minyak mentah dunia. Selain geopolitik, pasar juga menantikan data inflasi AS, yakni indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI), yang berpotensi mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve. 'Jika kedua data tersebut menunjukkan bahwa inflasi masih tinggi, hal ini dapat membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bulan September ini,' jelas Ibrahim. Dari dalam negeri, Ibrahim menambahkan pasar juga akan mencermati data cadangan devisa Agustus, sentimen konsumen dan penjualan ritel Juli. Untuk perdagangan Selasa (8/9/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.640-Rp 17.680 per dolar AS. Sementara itu, Lukman memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp 17.600-Rp 17.700 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tag kurs rupiah terhadap dollar Volatilitas Kurs Rupiah Kurs Rupiah Spot Reporter: Vivit Dewi Editor: Herlina Kartika Dewi
Risiko Geopolitik Meningkat, Ruang Penguatan Rupiah Diproyeksi Terbatas
View on original source
Share
Archive
Like

(0)Comments

 

Related Opinion

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.