PE

Penulis

Sejarawan Prof. Djoko Suryo Meninggal: Sosok Perumus Keistimewaan Yogyakarta

Image
RUANG.ID – Dunia akademis dan kebudayaan Indonesia kembali berduka. Pada Senin, 7 September 2026, pukul 04.50 di RSA UGM Yogakarta, Prof. Dr. Djoko Suryo atau KRT Suryohadibroto, Guru Besar Emertius Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), mengembuskan napas terakhirnya. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi sivitas akademika UGM, tetapi juga bagi dunia sejarah dan kebudayaan Yogyakarta yang selama bertahun-tahun diperkaya oleh gagasan, dedikasi, serta keilmuannya. Rangkaian riwayat hidup dan rekam jejak perjuangan keilmuan beliau terekam dengan jelas dalam buku Sejarawan dalam Pusaran Keistimewaan: Biografi Djoko Suryo . Lahir di Karanganyar, Pekalongan, Jawa Tengah, pada 30 Desember 1939, Djoko Suryo tumbuh dalam kultur religius yang kental. Ayahnya, Sjaba'an, seorang petani merangkap pamong desa, bersama sang ibu, Siti Chodidjah, menanamkan pentingnya kedisiplinan dan pendidikan sejak dini. Atas dorongan ayahnya yang berkeinginan agar Djoko menjadi seorang pendidik berwawasan luas, ia menjalani pendidikan ganda: sekolah umum di pagi hari dan madrasah pada sore hari. Perjalanan karier mengajar Djoko dimulai dari tingkatan paling dasar. Sebelum menapakkan kaki di ruang-ruang kuliah perguruan tinggi, beliau adalah seorang guru sekolah dasar. Pengalaman mengajar di Widoro (1960), Kulon Progo (1962–1964), hingga Payak, Piyungan, Bantul (1964), membentuk watak empati dan kesabarannya sebagai seorang pendidik. Pengalaman menghadapi berbagai dinamika birokrasi dan tantangan mengajar di pelosok desa itulah yang menempa komitmen pribadinya untuk senantiasa mengayomi murid-muridnya tanpa pilih kasih. Di tengah kesibukannya mengajar di sekolah dasar, Djoko melangkah ke jenjang perguruan tinggi dengan mendaftar di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (kini FIB UGM). Keputusannya memilih disiplin sejarah menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Bakat dan ketekunannya dalam bidang akademis membawa kariernya melesat, hingga kemudian beliau dipercaya menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM selama dua periode (1991–1998). Penghargaan Anugerah Kebudayaan Pelestari dan/atau Pelaku dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2023 (Foto: RUANG.ID ) Sebagai akademisi, karya dan kontribusi Prof. Djoko Suryo melampaui tembok Kampus Biru. Beliau merupakan salah satu figur kunci dalam penulisan dan penyuntingan masterwork Sejarah Nasional Indonesia Indonesia Dalam Arus Sejarah jilid 4, serta aktif dalam Konsorsium Bidang Sastra dan Filsafat sejak 1988. Pandangan historisnya dipengaruhi oleh keyakinan akan evolusi pemikiran manusia menuju kemajuan, keserasian, dan perdamaian. Bagi beliau, sejarah bukan sekadar deretan angka dan peristiwa masa lalu, melainkan proses dinamis dan integratif yang membentuk integrasi serta identitas Bangsa Indonesia. Satu di antara warisan monumental Prof. Djoko Suryo adalah perannya dalam perumusan Keistimewaan Yogyakarta. Sebagai bagian dari Tim Asistensi Penyusunan Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY, beliau menyumbangkan perspektif historis yang kuat untuk merumuskan regulasi yang selaras dengan jiwa, sejarah, dan kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Atas jasa dan pengabdiannya terhadap pelestarian tradisi dan sejarah Yogyakarta, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menganugerahkan gelar abdi dalem dengan nama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryohadibroto. Beliau senantiasa mengingatkan bahwa keistimewaan Yogyakarta tidak terlepas dari nilai-nilai kedermawanan sejarah dan kepemimpinan yang menyatu dengan rakyatnya. Rekan-rekan sejawat dan para mahasiswanya mengenal Prof. Djoko Suryo sebagai sosok yang hangat, tekun, dan penuh keteladanan. Beliau adalah wujud nyata dari seorang sejarawan yang tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga aktif merawat sejarah dan kebudayaan bangsanya. Kini, sang sejarawan humanis telah menuntaskan perjalanan sejarahnya sendiri. Jejak keilmuan, keteladanan, serta kontribusinya bagi keilmuan sejarah Indonesia dan Keistimewaan Yogyakarta akan senantiasa terpatri abadi. Selamat jalan, Prof. Djoko Suryo. Karya dan inspirasimu akan terus menyinari jalan generasi penerus bangsa. Jenazah Prof. Djoko Suryo disemayamkan di rumah duka, Jalan Merpati, Gang Beo RT 06 RW 50, Karangmojo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Upacara pelepasan di Balairung UGM dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026 pukul 14.00 WIB. Selanjutnya jenazah dimakamkan ke pemakaman Keluarga Besar UGM di Sawitsari, Condongcatur, Depok, Sleman.
Sejarawan Prof. Djoko Suryo Meninggal: Sosok Perumus Keistimewaan Yogyakarta
View on original source
Share
Archive
Like

(0)Comments

 

Related Opinion

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.