Selepas menamatkan SMA, saya nekat cabut dari Semarang dan mendaftar diri jadi anak rantau di Jogja. Niat awalnya sederhana saja, sama seperti kebanyakan orang yang tujuannya ke Kota Pelajar. Yakni, menumpang kuliah sambil uji nyali cari rupiah di kota yang nilai UMR-nya sering bikin gerah.
Ringkasan/Catatan Redaksi
Merantau dari Semarang ke Jogja terlihat dekat, tapi ternyata banyak pelajaran hidup bisa diambil dari pengalaman itu.
Dulu, saya sempat menyepelekan hidup di Jogja nggak bakal memberi pelajaran hidup yang berarti. Toh, jarak dan budayanya juga nggak kelewat beda dibanding kota-kota di Jawa Tengah. Singkatnya, saya sudah yakin bisa adaptasi tanpa susah payah di Jogja.
Akan tetapi, setelah belasan tahun melakoni hidup sebagai warga perantauan di sana, pandangan saya berubah. Saya justru bersyukur pernah sengaja terdampar di Jogja. Dan, alasannya sama sekali bukan seputar kafe estetik atau romantisme sudut kotanya yang konon sering bikin gagal move on.
Menjalani tempo hidup yang lebih manusiawi di Jogja
Walaupun bukan kota metropolitan yang super sibuk, Semarang tetap saja punya tabiat galak. Kota Atlas senantiasa menuntut warganya bergerak cepat mengejar target. Mungkin, ini watak warisan dari takdirnya sebagai kota pelabuhan dan kawasan industri yang hidupnya berkejaran dengan jarum jam.
Sebaliknya, begitu menginjakkan kaki di Jogja, saya mendadak dipaksa melambat dan berkenalan dengan ritme waktu yang berdetak lebih santai. Kota ini mengajarkan bahwa hidup nggak selamanya harus dihitung dari seberapa cepat sampai garis akhir. Tapi, dari seberapa banyak hal bermakna yang bisa diresapi sepanjang perjalanan.
Terdengar klise dan agak puitis memang. Namun, seiring umur yang terus merayap naik, saya jadi paham artinya penggalan kalimat 'hidup sepenuhnya di hari ini' yang kerap dipopulerkan di berbagai buku pengembangan diri. Barangkali, kesadaran ini menular secara alami berkat belasan tahun menetap di Kota Gudeg.
Menyelami kehidupan frugal living
Semasa masih tinggal di Semarang, urusan bertahan hidup rasanya begitu gampang. Saya nggak pernah puyeng memikirkan ongkos transport atau anggaran makan karena semuanya masih berada dalam kendali rumah. Tapi, begitu mendarat di Jogja, realitas langsung menampar dengan kejam.
Uang kiriman bulanan harus dikelola sedemikian rupa agar cukup untuk membayar segala macam kebutuhan hidup selama sebulan penuh. Di detik ini, siasat frugal living ala anak kos resmi saya jalankan meski saat itu saya belum familiar dengan istilahnya.
Selain menjadikan angkringan Jogja sebagai penyelamat utama perut, saya juga terbiasa mengandalkan dua kaki untuk ke mana-mana demi menghemat ongkos transportasi. Bonusnya lumayan. Dompet aman, badan juga jadi lebih sehat karena rajin mengelilingi Bulaksumur sampai Kotabaru.
Urusan kuliah pun nggak kalah mendorong saya buat memutar otak. Pertama, saya punya hobi meminjam buku teks tebal dari kakak angkatan alih-alih beli buku impor asli. Soalnya, harganya bisa menguras setengah jatah bulanan saya.
Kalau sudah kepepet lantaran buku pinjaman nihil, saya fotokopi buku aslinya dari teman yang punya walau sebenarnya cara ini nggak patut ditiru. Berikutnya, begitu mata kuliah itu selesai dan saya lulus, buku-buku fotokopian tadi tinggal diloakkan lagi buat tambahan uang jajan.
Bukan tanpa alasan saya harus seketat itu mengelola uang. Sebab, di saat bersamaan, sebagian jatah bulanan itu harus saya sisihkan sebagai modal usaha kecil-kecilan. Yaitu, kulakan baju dari Tanah Abang lalu saya jual kembali lewat Facebook.
Mendorong cari uang sendiri
Dari dapur perantauan yang penuh akal bulus bertahan hidup inilah saya akhirnya belajar berpikir kreatif mencari uang dan merangkul kesederhanaan. Jogja bukan cuma mengajari saya cara hidup bersahaja, tapi juga menempa mental agar nggak cengeng menghadapi kerasnya dunia.
Meninggalkan Semarang dan menempuh separuh usia dewasa muda di Jogja pada akhirnya bukan sekadar catatan perpindahan alamat. Tanpa pernah saya duga, Jogja telah sukses diam-diam mendidik saya lewat cara-cara yang nggak pernah diajarkan di ruang kuliah.
Di balik segala polemik dan kontroversinya, Jogja mengajarkan ketulusan untuk berdamai dengan keadaan, melatih kepala tetap waras di tengah tekanan, dan menumbuhkan kepekaan untuk mengucap rasa syukur atas hal-hal kecil yang kerap saya abaikan.
Meski kini KTP saya kembali berstatus sebagai warga Kota Lumpia, Jogja selalu punya bilik istimewa di hati saya. Bukan semata-mata lantaran kenangannya, melainkan karena jasanya yang telaten menempa kompas hidup saya hingga utuh seperti sekarang.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Merantau di Jogja Lebih Enak Dibanding Surabaya, Lebih Slow dan Manusiawi.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
(0)Comments