Ilustrasi penggunaan masker. (Pexels/Tara Winstead)
LAMPUNG - Pemerintah Provinsi Lampung menemukan adanya tren peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah wilayah, meski data keseluruhan masih dalam proses inventarisasi.
Data sementara menunjukkan dampak kesehatan mulai terlihat di Kabupaten Tanggamus. Pada 5 September tercatat 52 kunjungan ke fasilitas kesehatan dengan 46 kasus ISPA, kemudian pada 6 September jumlah kunjungan meningkat menjadi 158 dengan 76 kasus ISPA.
Pemeriksaan sampel abu vulkanik oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menunjukkan terdapat partikel berukuran sekitar 5 hingga 10 mikrometer dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam.
Partikel tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Baca juga: Status Anak Krakatau Masih Siaga, Wagub Lampung Minta Warga Tetap Tenang
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, meminta masyarakat yang berada di wilayah terdampak membatasi aktivitas fisik di luar rumah.
"Jika aktivitas di luar tidak dapat dihindari, warga dapat menggunakan masker, baju lengan panjang, serta pelindung mata seperti kacamata atau goggles," kata Jihan dalam konferensi pers update Gunung Anak Krakatau, di Pusdalops BPBD Lampung, Senin (7/9/2026).
Jihan juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, yakni anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
"Mereka perlu diawasi lebih intensif oleh keluarga dan petugas kesehatan selama paparan abu vulkanik masih berlangsung," ujarnya.
Baca juga: Itera Pantau Kualitas Udara di Tengah Paparan Abu Vulkanik, Begini Hasilnya
Masyarakat juga diminta menutup pintu dan jendela rumah ketika paparan abu masih terjadi. Saat membersihkan abu, warga dianjurkan tidak menyapunya dalam kondisi kering agar abu tidak kembali beterbangan dan terhirup.
Di sisi lain, Jihan mengatakan pemerintah terus memantau kualitas udara di wilayah terdampak. Di Bandar Lampung, hasil pemantauan pada 5-6 September menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida (SO2) berada pada kisaran 212 hingga 224 mikrogram per meter kubik.
Dari sisi pelayanan kesehatan, seluruh puskesmas dan rumah sakit telah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama fasilitas kesehatan di wilayah yang relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Tenaga kesehatan, obat-obatan, bahan medis habis pakai, oksigen, hingga sistem rujukan disiapkan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kebutuhan pelayanan.
Baca juga: Kenapa Abu Vulkanik Berbahaya? Ini Penjelasan Pakar Itera
(0)Comments