Ilustrasi(Dok istimewa )
KETIKA penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin masif, tingginya tingkat adopsi belum tentu menghasilkan nilai nyata bagi perusahaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar mampu menyelesaikan persoalan, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan dampak yang terukur bagi bisnis.
Isu tersebut menjadi fokus Dana dalam inisiatif tahunan AI@Work Lab di IdeaFest 2026, yang mempertemukan pemimpin bisnis, teknologi, dan komunitas untuk membahas cara membawa AI dari tahap eksperimen menuju implementasi yang memberikan hasil terukur serta dampaknya bagi masa depan talenta.
Dalam sesi The AI Adoption Trap: Moving Beyond Hype to Real Business Value, CEO & Co-Founder DANA Indonesia Vince Iswara bersama Founder Genesis & Sevenpreneur Raymond Chin, menekankan perusahaan perlu mengukur tingkat keberhasilan AI terhadap proses kerja dan perubahan yang dihasilkan terhadap bisnis, bukan hanya dari seberapa banyak AI digunakan atau eksperimen yang dijalankan.
Baca juga : Gubernur Koster Minta AI tak Boleh Menggantikan Kecerdasan Budaya
'Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur," katanya dalam keterangan resmi.
Namun demikian, manusia disebut tetap memegang peran utama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya. Saat ini, sekitar 80-90% kode di Dana dihasilkan dengan dukungan AI.
Meski demikian, peran engineer tidak berhenti pada pemeriksaan kualitas. Engineer tetap bertanggung jawab dalam merumuskan persoalan, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, serta mengambil keputusan atas hasil akhir. Sepanjang 2025, implementasi agentic AI pada sejumlah proses operasional DANA mencatat peningkatan produktivitas hingga 57%, peningkatan kepuasan pelanggan sebesar 13%, serta percepatan penyelesaian layanan sebesar 10%.
Baca juga : OpenAI Luncurkan GPT-6 Astra: Model AI Paling Cerdas dengan Performa 47 Persen Lebih Cepat
Diskusi juga menyoroti pentingnya kesiapan organisasi dan talenta dalam mengintegrasikan AI ke proses kerja. Perusahaan perlu memberi ruang untuk mencoba teknologi baru, sekaligus memastikan tata kelola dan penerapannya tetap bertanggung jawab. Pendekatan tersebut diterapkan dengan memberikan ruang bagi tim untuk bereksperimen, sembari memastikan setiap penggunaan AI memiliki tujuan, parameter keberhasilan, dan akuntabilitas yang jelas.
Di Dana, pendekatan ini salah satunya dilakukan lewat penerapan Smart Friction, yaitu penambahan lapisan verifikasi secara terukur pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi.
Lewat kolaborasi lintas sektor bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), langkah tersebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas terindikasi perjudian online di platform hingga 80% sepanjang 2025. Coding kemudian disebut tetap menjadi kemampuan penting, tetapi keunggulan kompetitif bergeser ke kemampuan memahami bisnis, memecahkan masalah, merancang arsitektur, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil secara menyeluruh.
'Ketika kode semakin mudah dihasilkan, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan akuntabilitas justru menjadi semakin penting,' ujar CTO Dana Indonesia Norman Sasono. (E-4)
(0)Comments