ED

Editor

Aktivitas Gunung Api Meningkat, Komisi IX DPR Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi Kesehatan

Image
Seorang anak memasangkan masker ke temannya di posko pengungsian erupsi Gunung Sinabung di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa (1/9/2026).(. ANTARA FOTO/Yudi Manar) KOMISI IX DPR RI meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan evakuasi dalam penanganan bencana tapi meningkatkan kesiapan layanan kesehatan untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap masyarakat menyusul aktivitas erupsi sejumlah gunung api di Indonesia. Anggota Komisi IX DPR RI, Ranny Fahd Arafiq mengatakan abu vulkanik dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit. Risiko tersebut semakin besar bagi kelompok rentan dan warga yang memiliki gangguan pernapasan. 'Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Jika terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan, mengiritasi mata dan kulit, serta memperburuk kondisi warga yang memiliki gangguan pernapasan,' ujar Ranny dalam keterangannya di Jakarta, Senin (7/9). Baca juga : DPR Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi Dini Imbas Peningkatan Aktivitas Gunung Api Karena itu, dia meminta pemerintah memastikan ketersediaan masker, obat-obatan, tenaga medis, serta kesiapan puskesmas dan rumah sakit di wilayah yang berpotensi terdampak erupsi. Ranny juga meminta pemerintah memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan. Menurut dia, kesiapan layanan kesehatan harus dilakukan sebelum dampak erupsi meluas. 'Jangan menunggu masyarakat jatuh sakit baru kemudian kita bergerak. Sistem kesehatan harus sudah siap sebelum dampaknya meluas,' tegas legislator Fraksi Partai Golkar tersebut. Baca juga : Gunung Sakurajima Erupsi, Kolom Abu Menjulang 4.400 Meter Selain layanan kesehatan, Ranny menilai penanganan masa tanggap darurat harus mencakup jaminan air bersih, keamanan pangan, sanitasi, dan kebersihan lingkungan. Dia juga menekankan pentingnya koordinasi cepat antara pemerintah pusat dan daerah dengan melibatkan BNPB/BPBD, Kementerian Kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta unsur terkait lainnya. 'Yang kita butuhkan adalah tanggap darurat, bukan gagap darurat. Dalam kondisi bencana, keterlambatan respons kesehatan bisa berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat,' pungkasnya. Diketahui, sejumlah gunung api tercatat mengalami erupsi pada awal September 2026, di antaranya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, serta Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan aktivitas erupsi sejumlah gunung tersebut tidak saling memicu. Setiap gunung api memiliki sistem magma yang terpisah sehingga erupsi secara bersamaan dapat terjadi secara alami tanpa menunjukkan korelasi langsung. Indonesia berada di kawasan Ring of Fire dan memiliki 127 gunung api aktif. Masyarakat di wilayah yang terdampak erupsi diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mematuhi rekomendasi zona bahaya yang ditetapkan pemerintah. (P-4)
Aktivitas Gunung Api Meningkat, Komisi IX DPR Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi Kesehatan
View on original source
Share
Archive
Like

(0)Comments

 

Related Opinion

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.