UN

unknown

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Image
Baltasar Djata Oleh: Baltasar Taruma Djata Tanggal 15 Agustus 2026 dapat dibaca bukan semata sebagai sebuah penanda waktu terjadinya bencana, melainkan juga sebagai momentum refleksi tentang kerentanan dan masa depan masyarakat Flores. Gempa, dalam pengertian fisik, menghadirkan guncangan yang mengingatkan manusia bahwa kehidupan di wilayah kepulauan Indonesia senantiasa berada dalam perjumpaan antara potensi alam, risiko kebencanaan, dan keterbatasan pembangunan. Pada 15 Agustus 2026, Flores mengalami gempa tektonik bermagnitudo M 7,7 pada kedalaman sekitar 15 km, dengan episenter di laut sekitar 30 km timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Gempa yang bersumber dari mekanisme sesar naik ( thrust fault ) pada Flores Back-arc Thrust tersebut juga memicu tsunami dan rangkaian gempa susulan, sehingga memperlihatkan bahwa kerentanan masyarakat pesisir tidak berhenti pada guncangan utama, tetapi dapat berlanjut menjadi risiko sosial-ekonomi yang lebih kompleks (BMKG, 2026). Di sinilah gagasan GEMPAR (Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat) menjadi relevan. Jika gempa mengguncang fondasi fisik kehidupan, maka GEMPAR dapat dimaknai sebagai upaya mengguncang fondasi ekonomi lama yang membuat masyarakat terlalu bergantung pada bantuan, pasar dari luar daerah, dan kebijakan pembangunan yang belum sepenuhnya bertumpu pada kekuatan rakyat. Dengan demikian, hubungan antara GEMPA dan GEMPAR bukanlah sekadar permainan akronim. Keduanya dapat dibaca sebagai dua realitas yang saling berhadapan: yang Gempa adalah guncangan yang datang dari alam, sedangkan Gempar adalah gerakan yang harus lahir dari kesadaran manusia. Gempa tidak dapat dicegah, tetapi dampak sosial-ekonominya dapat dikurangi apabila masyarakat memiliki ketahanan ekonomi yang kuat. Gempa sebagai Pengingat tentang Kerentanan Flores Flores merupakan wilayah yang hidup dalam landskap geografis yang kompleks. Potensi kebencanaan merupakan bagian dari realitas kehidupan masyarakat. Karena itu, bencana tidak seharusnya dipahami hanya sebagai peristiwa alam yang selesai ketika guncangan berhenti. Gempa selalu memiliki dimensi lanjutan: kerusakan rumah, terganggunya aktivitas ekonomi, hilangnya pendapatan, terputusnya distribusi barang, meningkatnya biaya hidup, dan dalam situasi tertentu, bertambahnya kelompok masyarakat rentan. Kondisi geografis dan geologis Nusa Tenggara Timur, termasuk Flores, menempatkannya pada kawasan dengan berbagai ancaman bencana geologis, sementara pengalaman gempa Flores menunjukkan bahwa dampak bencana dapat meluas dari kerusakan fisik hingga terganggunya konektivitas, mobilitas warga, dan aktivitas ekonomi masyarakat (BNPB, 2025; BNPB, 2026). Dalam perspektif pembangunan, dampak gempa sering kali lebih berat bagi masyarakat yang sejak awal memiliki basis ekonomi lemah. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan aset, tabungan, akses pembiayaan, perlindungan sosial, dan sumber pendapatan alternatif yang membuat rumah tangga berpendapatan rendah memiliki kapasitas yang lebih kecil untuk menyerap guncangan dan melakukan pemulihan pascabencana. Dengan demikian, bencana tidak hanya menimbulkan kerugian material dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi memperdalam kemiskinan dan menghambat proses pembangunan dalam jangka panjang (World Bank, 2014). Seorang pedagang kecil yang kehilangan tempat usaha, seorang petani yang mengalami gangguan distribusi hasil produksi, nelayan yang kehilangan akses terhadap sarana ekonomi, atau pekerja informal yang pendapatannya bergantung pada aktivitas harian, semuanya dapat mengalami dampak yang jauh lebih panjang daripada durasi gempa itu sendiri. Karena itu, persoalan kebencanaan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari persoalan ekonomi rakyat. Semakin lemah ketahanan ekonomi masyarakat, semakin besar pula risiko sosial yang ditimbulkan oleh sebuah bencana. Di sinilah Flores membutuhkan paradigma pembangunan yang tidak hanya berbicara tentang rekonstruksi bangunan, tetapi juga rekonstruksi kemampuan ekonomi masyarakat. GEMPAR: Mengubah Masyarakat dari Penerima Menjadi Penggerak GEMPAR, atau Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat, dapat diposisikan sebagai sebuah paradigma pembangunan berbasis masyarakat. Kata kuncinya bukan semata-mata 'pendapatan', melainkan pendapatan asli rakyat. Konsep ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang ideal bukan hanya terlihat dalam statistik makro, tetapi harus benar-benar tercermin dalam meningkatnya kemampuan rumah tangga untuk memperoleh, mengelola, dan mengembangkan sumber-sumber ekonomi secara mandiri. Baca Juga : Labuan Bajo Surga Kecil Indonesia Pendapatan asli rakyat berarti nilai ekonomi yang bertumbuh dari aktivitas produktif masyarakat sendiri. Dalam perspektif pembangunan ekonomi lokal, peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu bertumpu pada penguatan kapasitas produktif, penciptaan kesempatan kerja, pengembangan usaha, dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di tingkat lokal, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam proses penciptaan nilai ekonomi (ILO, 2006). Hal ini dapat bersumber dari pertanian, perikanan, peternakan, usaha mikro dan kecil, industri rumah tangga, ekonomi kreatif, pariwisata berbasis komunitas, hingga pengolahan sumber daya lokal. Flores memiliki berbagai potensi yang sesungguhnya dapat menjadi fondasi GEMPAR. Tantangannya bukan semata-mata ketiadaan sumber daya, tetapi bagaimana sumber daya tersebut diorganisasikan menjadi kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah. Salah satu persoalan klasik pembangunan daerah adalah masyarakat sering kali menjadi produsen bahan mentah, sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh pihak lain. Dalam perspektif pengembangan industri dan rantai nilai, keterbatasan kapasitas pengolahan, teknologi, akses pasar, dan posisi tawar produsen lokal menyebabkan sebagian besar nilai ekonomi suatu komoditas dapat tercipta dan terakumulasi pada tahapan pengolahan, distribusi, dan pemasaran yang berada di luar komunitas atau daerah penghasil bahan baku (UNIDO, 2009). Sebagai contoh petani menghasilkan komoditas, tetapi harga ditentukan pasar di luar dirinya. Nelayan menangkap ikan, tetapi keuntungan distribusi dapat lebih besar daripada keuntungan nelayan. Pelaku usaha kecil memproduksi barang, tetapi akses terhadap modal, teknologi, pemasaran, dan jaringan distribusi masih terbatas. GEMPAR seharusnya hadir untuk memutus pola tersebut. Dari Bantuan menuju Pemberdayaan Pasca-bencana, bantuan merupakan sesuatu yang penting dan bahkan mendesak. Negara dan berbagai elemen masyarakat memiliki tanggung jawab kemanusiaan untuk memastikan kebutuhan dasar korban terpenuhi. Namun, pembangunan tidak boleh berhenti pada bantuan. Bantuan yang terlalu lama tanpa strategi pemberdayaan dapat menciptakan ketergantungan. Sebaliknya, pemberdayaan tanpa perlindungan sosial juga dapat menjadi tidak realistis ketika masyarakat sedang berada dalam kondisi krisis. Karena itu, diperlukan sebuah pendekatan bertahap: Pertolongan, Pemulihan, Pemberdayaan, dan Kemandirian. Dalam kerangka ini, GEMPAR dapat menjadi jembatan antara fase pemulihan pasca-bencana dan pembangunan ekonomi jangka panjang. Masyarakat tidak hanya dibantu untuk kembali seperti keadaan sebelum bencana, tetapi didorong untuk memiliki kapasitas ekonomi yang lebih kuat daripada sebelumnya. Artinya, rekonstruksi pascabencana tidak boleh berhenti pada pembangunan kembali rumah dan infrastruktur yang rusak. Lebih dari itu, rekonstruksi harus menjadi momentum untuk memulihkan, bahkan meningkatkan, kapasitas produksi masyarakat melalui penguatan usaha, keterampilan, akses modal, dan jaringan pasar. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya kembali pulih secara fisik, tetapi juga memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat, mandiri, dan tangguh. GEMPAR melalui Gerakan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat (GEMPAR) di Flores perlu dimulai dari sebuah prinsip sederhana: apa yang dimiliki masyarakat, apa yang dibutuhkan pasar, dan bagaimana keduanya dipertemukan secara adil dan berkelanjutan? Pertama , sektor pertanian perlu bergerak dari orientasi produksi menuju orientasi nilai tambah. Tidak cukup hanya meningkatkan hasil panen apabila petani tetap menjual produk dalam bentuk mentah dengan harga rendah. Pengolahan, pengemasan, standardisasi mutu, branding, dan pemasaran harus menjadi bagian dari rantai ekonomi rakyat. Kedua, sektor kelautan dan perikanan perlu memberikan posisi yang lebih kuat kepada nelayan dan masyarakat pesisir. Potensi laut tidak boleh hanya menjadi sumber bahan baku bagi rantai perdagangan yang keuntungan terbesarnya berada di luar komunitas lokal. Ketiga, usaha mikro, kecil, dan menengah perlu ditempatkan sebagai fondasi ekonomi, bukan sekadar sektor pelengkap. Banyak rumah tangga di Flores sesungguhnya telah memiliki keterampilan, tetapi belum memiliki ekosistem yang mendukung pertumbuhan usaha mereka. Baca Juga : Memperkuat Spiritualitas Anti Korupsi Dalam Kalangan Mahasiswa Keempat, pariwisata harus dikembangkan dengan prinsip masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton. Pertumbuhan destinasi tidak akan memiliki makna sosial yang kuat apabila masyarakat lokal hanya menjadi tenaga kerja dengan posisi ekonomi paling rendah. Dengan demikian, GEMPAR bukan hanya program untuk 'meningkatkan penghasilan', tetapi GEMPAR harus menjadi gerakan untuk meningkatkan posisi tawar ekonomi rakyat. Ketahanan Ekonomi adalah Bagian dari Mitigasi Bencana Salah satu pelajaran penting dari berbagai bencana adalah bahwa ketahanan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kualitas bangunan atau sistem peringatan dini. Ketahanan juga ditentukan oleh kemampuan ekonomi masyarakat untuk bertahan dan pulih. Rumah yang tahan gempa memang penting, infrastruktur yang kuat juga sangat penting. Tetapi keluarga yang memiliki sumber pendapatan yang beragam, tabungan, keterampilan, jaringan ekonomi, dan akses terhadap pasar akan memiliki kemampuan pemulihan yang lebih baik. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi rakyat sesungguhnya dapat dipahami sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana. Dalam konteks ini, GEMPAR memiliki dimensi yang lebih luas. GEMPAR bukan sekadar agenda ekonomi, tetapi juga agenda ketahanan sosial. Masyarakat yang mandiri secara ekonomi memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menghadapi guncangan, baik guncangan yang berasal dari alam maupun dari perubahan ekonomi. Jika GEMPA adalah peristiwa yang menguji ketahanan masyarakat, maka GEMPAR adalah gerakan yang mempersiapkan masyarakat agar tidak mudah runtuh ketika ujian berikutnya datang. Pemerintah, Masyarakat, dan Kolaborasi Pembangunan GEMPAR tidak dapat menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Pemerintah berperan menyediakan regulasi, infrastruktur, akses permodalan, pendidikan, pendampingan, dan pasar. Namun, keberhasilan gerakan ekonomi rakyat sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat sebagai pelaku utama. Ketika masyarakat hanya diposisikan sebagai penerima program, semangat kemandirian akan melemah. Karena itu, GEMPAR harus dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, dan generasi muda. Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui riset dan inovasi. Komunitas dapat membangun solidaritas dan jaringan produksi. Generasi muda dapat menjadi penggerak transformasi digital dan pemasaran. Pelaku usaha dapat menjadi mitra dalam penguatan rantai nilai. Pemerintah desa dapat mendorong lahirnya model ekonomi berbasis potensi lokal. Dari GEMPA menuju GEMPAR Gempa dapat merobohkan bangunan, tetapi tidak boleh merobohkan harapan dan semangat masyarakat untuk bangkit. Guncangan mungkin menghentikan aktivitas ekonomi untuk sementara, namun tidak boleh mematikan cita-cita membangun kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera. Justru dalam situasi krisis, masyarakat perlu menemukan dan menguatkan kembali kekuatan kolektif untuk memulihkan usaha, mengembangkan potensi lokal, menciptakan nilai tambah, serta memperluas sumber-sumber pendapatan. Pemulihan pascabencana itu tidak seharusnya dimaknai sekadar sebagai upaya mengembalikan keadaan seperti sebelum bencana. Kondisi sebelum bencana belum tentu telah mencerminkan masyarakat yang kuat secara ekonomi dan tahan terhadap berbagai guncangan. Rekonstruksi harus menjadi kesempatan untuk memperbaiki kelemahan yang ada, memperkuat kapasitas masyarakat, dan membangun sistem ekonomi yang lebih adaptif. Melalui semangat kebersamaan, inovasi, dan kemandirian, masyarakat dapat mengubah pengalaman bencana menjadi titik balik pembangunan. Dengan demikian maka, Flores tidak hanya bangkit dari reruntuhan, tetapi juga melangkah menuju ekonomi rakyat yang lebih kuat, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Gempa dapat merobohkan bangunan, tetapi tidak boleh meruntuhkan harapan masyarakat. Guncangan mungkin menghentikan aktivitas ekonomi untuk sementara, namun tidak semestinya memadamkan cita-cita membangun kehidupan yang lebih mandiri. Justru dalam situasi krisis, semangat kebangkitan perlu diperkuat melalui pemulihan ekonomi, pengembangan usaha produktif, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Dari reruntuhan, Flores harus mampu menata kembali fondasi ekonomi rakyat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.* Penulis Adalah; Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Flores Ende. Penulis : Baltasar Djata Berita ini 24 kali dibaca
Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
View on original source
Share
Archive
Like

(0)Comments

 

Related Opinion

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.