Kabar duka yang mendalam menyelimuti dunia seni dan budaya tanah air. Sutradara senior, penulis skenario, serta produser legendaris Indonesia, Ida Farida, telah meninggal dunia. Sosok yang dikenal sebagai pelopor sineas perempuan di Indonesia ini mengembuskan napas terakhirnya di usia 88 tahun.
Kabar kepergian sang "Ibu Perfilman" ini sontak memunculkan rasa duka yang luar biasa dari berbagai kalangan, mulai dari pegiat seni, sineas muda, hingga pecinta film klasik Indonesia. Bagi industri sinema tanah air, Ida Farida bukan sekadar nama yang terukir di deretan kredit title film, melainkan sebuah monumen perjuangan dan kesetaraan.
Sang Pionir Sineas Perempuan di Era yang Didominasi Pria
Menelusuri kembali jejak karier Ida Farida berarti menyelami sejarah perjuangan perempuan di industri film Indonesia. Pada era 1970-an, ketika industri perfilman nasional masih sangat didominasi oleh figur laki-laki, Ida berani mengambil kamera dan duduk di kursi sutradara.
Ia mendobrak stigma bahwa ruang di belakang kamera adalah "wilayah laki-laki". Melalui lensanya, Ida membawa perspektif feminin yang segar, lembut, namun tajam dalam mengkritisi isu-isu sosial dan budaya. Keberaniannya membuka jalan bagi generasi sineas perempuan Indonesia selanjutnya untuk berani bersuara dan berkarya tanpa batasan.
Mahakarya yang Tak Lekang oleh Waktu
Nama Ida Farida melekat kuat melalui karya-karya monumentalnya yang hingga kini masih dipelajari di sekolah-sekolah film. Salah satu mahakaryanya yang paling ikonik adalah film "Sri" (1975). Film ini tidak hanya sukses secara komersial pada masanya, tetapi juga diakui karena kedalaman psikologis karakter perempuannya yang sangat manusiawi.
Tak berhenti di situ, ia kembali menyita perhatian publik dan kritikus melalui film "Kembang Semusim" (1979). Karya ini menjadi bukti nyata bagaimana Ida mampu meramu cerita lokal dengan eksekusi sinematik yang memukau. Film-filmnya selalu menonjolkan suara kaum marginal dan perempuan, menjadikannya salah satu sutradara pertama di Indonesia yang secara konsisten menerapkan kacamata feminis dalam karya visualnya.
(0)Comments