KO

Kompasiana.com

Ketika Orang Terdekat Meninggalkan Kita

Image
Konten ini dibuat oleh pengguna Kompasiana. Seluruh isi menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan resmi redaksi Kompas. Oleh Ibnu Supiani Komadiyyah Suwandoko Ada kenyataan dalam kehidupan yang terkadang paling sulit diterima yaitu tidak semua orang yang kita cintai akan berjalan bersama kita sampai akhir perjalanan.Ada orang yang lahir dari keluarga yang sama, tetapi memilih jalan yang berbeda.Ada orang yang pernah duduk bersama kita di satu meja, tetapi kemudian mengambil arah kehidupan yang berbeda.Ada sahabat yang dahulu berjalan berdampingan, kemudian memilih meninggalkan kita.Ada pula orang-orang yang sangat kita cintai, tetapi tidak dapat kita paksa untuk menerima keyakinan, nasihat, atau pilihan hidup yang kita anggap benar.Di sinilah manusia belajar bahwa cinta tidak selalu berarti kesamaan jalan.Dan kisah Nabi Luth AS memberikan pelajaran yang sangat mendalam mengenai hal tersebut. Orang Terdekat Belum Tentu Berada di Jalan yang Sama Al-Qur'an menceritakan bagaimana Nabi Luth AS diperintahkan Allah untuk meninggalkan tempat tersebut bersama keluarganya.Namun Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa istrinya tidak termasuk orang yang diselamatkan.Allah berfirman Kecuali istrinya, telah Kami tentukan bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang tertinggal.(QS. Al-Hijr: 60).Ayat ini menyampaikan sebuah pelajaran yang sangat berat bagi manusia. Hubungan darah tidak otomatis menjamin keselamatan seseorang.Seorang anak tidak menjadi baik hanya karena orang tuanya baik.Seorang anak tidak otomatis buruk hanya karena keluarganya memiliki kekurangan.Begitu pula seseorang tidak memperoleh kemuliaan hanya karena dekat dengan orang saleh.Setiap manusia mempunyai tanggung jawab atas pilihannya sendiri di hadapan Allah. Keluarga Adalah Amanah, Bukan Kepemilikan Dalam kehidupan modern, kita sering mengatakan. Dia keluarga saya.Kalimat itu benar.Tetapi keluarga bukanlah sesuatu yang kita miliki seperti benda.Anak bukan milik orang tua.Pasangan bukan milik pasangan.Dan orang tua pun bukan milik anak.Mereka adalah amanah.Karena itu, mencintai keluarga berarti berusaha mengarahkan mereka kepada kebaikan, bukan memaksa mereka menjadi seperti yang kita inginkan.Orang tua mempunyai kewajiban mendidik.Suami dan istri mempunyai kewajiban saling mengingatkan.Anak mempunyai kewajiban menghormati orang tua selama tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan.Tetapi setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing.Inilah yang membuat pendidikan keluarga menjadi sangat penting.Kita tidak cukup hanya memberikan fasilitas.Kita harus memberikan nilai.Kita tidak cukup hanya memberikan pendidikan formal.Kita harus memberikan keteladanan.Kita tidak cukup hanya menginginkan anak sukses.Kita harus menginginkan anak memiliki akhlak. Nabi Tidak Berarti Semua Orang Terdekatnya Otomatis Selamat Al-Qur'an memberikan banyak pelajaran tentang persoalan ini.Nabi Nuh AS mempunyai seorang anak yang tidak mengikuti jalan keimanan.Nabi Ibrahim AS menghadapi ayah yang tidak mengikuti dakwahnya.Nabi Luth AS memiliki istri yang tidak berada di jalan keselamatan.Sementara Rasulullah SAW sendiri kehilangan orang-orang yang sangat dekat dengannya yang tidak semuanya menerima iman.Semua itu mengajarkan satu prinsip. Kebenaran tidak diwariskan melalui hubungan keluarga.Yang diwariskan kepada keluarga adalah kesempatan untuk mengenal kebenaran.Adapun menerima atau menolaknya adalah pilihan manusia yang harus dipertanggungjawabkan.Karena itu, seseorang tidak boleh merasa aman hanya karena berada di lingkungan orang-orang baik.Dan seseorang juga tidak boleh merasa putus asa hanya karena berasal dari lingkungan yang penuh kekurangan.Allah melihat pilihan dan amal manusia. Jangan Memaksa Orang yang Kita Cintai Ada sisi lain yang sangat penting.Ketika kita mencintai seseorang, kita sering ingin mengatur kehidupannya.Kita ingin dia berpikir seperti kita.Kita ingin dia memilih seperti kita.Kita ingin dia mengikuti jalan yang kita anggap benar.Namun manusia tidak dapat dipaksa untuk memiliki hati yang sama.Allah berfirman Tidak ada paksaan dalam agama.(QS. Al-Baqarah: 256).Maka tugas kita adalah menyampaikan kebaikan dengan hikmah, memberikan teladan, mendoakan, dan menjaga kasih sayang.Bukan memaksa.Sebab hidayah adalah hak Allah.Bahkan Rasulullah SAW pun diingatkan bahwa beliau tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang beliau cintai sebagaimana kehendak beliau.Allah berfirman . Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.(QS. Al-Qashash: 56). Ayat ini mengajarkan kerendahan hati.Kita boleh menasihati.Kita boleh mengingatkan.Kita boleh mendoakan.Tetapi kita tidak boleh mengklaim bahwa kita adalah pemilik hidayah orang lain. Ketika Orang yang Kita Cintai Memilih Jalan Berbeda Inilah salah satu ujian paling berat dalam kehidupan.Bagaimana jika orang yang kita cintai mengambil jalan yang berbeda?Bagaimana jika anak tidak mengikuti nasihat orang tua?Bagaimana jika pasangan tidak mempunyai visi kehidupan yang sama?Bagaimana jika saudara memilih jalan yang tidak kita setujui?Bagaimana jika sahabat yang dahulu berjalan bersama kita kemudian meninggalkan prinsip yang pernah diperjuangkan bersama?Jawabannya tidak sederhana.Tetapi kita dapat belajar dari kisah para nabi.Nasihat tetap disampaikan.Kasih sayang tetap dijaga.Doa tetap dipanjatkan.Namun ketika seseorang telah memilih jalannya sendiri, kita tidak selalu mempunyai kekuasaan untuk mengubahnya. Pada titik tertentu, kita harus menyerahkan urusan hati kepada Allah. Tidak Semua Perpisahan Berarti Kebencian Ada perpisahan yang diperlukan agar dua orang tidak saling menghancurkan.Ada jarak yang diperlukan agar seseorang dapat menjaga prinsip.Ada keputusan untuk tidak lagi mengikuti suatu lingkungan, bukan karena membenci orang-orang di dalamnya, tetapi karena ingin menyelamatkan diri.Inilah makna yang perlu kita pahami dari perjalanan Nabi Luth AS.Meninggalkan sebuah lingkungan tidak selalu berarti membenci seluruh manusia di dalamnya.Terkadang seseorang hanya perlu mengatakan saya tidak dapat melanjutkan perjalanan ini bersama kalian.Kalimat itu tidak harus diucapkan dengan kebencian.Tidak harus disertai penghinaan.Tidak harus diikuti dengan pembalasan.Cukup dengan keteguhan hati. Jangan Menjadikan Luka sebagai Alasan untuk Membenci Ketika orang terdekat meninggalkan kita, luka bisa sangat dalam.Kita bertanya mengapa dia melakukan itu?mengapa dia tidak memahami perjuangan saya?Mengapa setelah sekian lama bersama, akhirnya dia memilih pergi?Pertanyaan-pertanyaan itu manusiawi.Tetapi jangan biarkan luka mengubah kita menjadi manusia yang penuh kebencian.Seseorang boleh pergi dari hidup kita.Tetapi kita tidak harus membalasnya dengan keburukan.Seseorang boleh menolak kita.Tetapi kita tidak harus kehilangan akhlak.Seseorang boleh memilih jalan berbeda.Tetapi kita tidak harus mengutuk seluruh kehidupannya.Sebab ketika kita membalas keburukan dengan keburukan, kita berisiko menjadi bagian dari masalah yang dahulu ingin kita tinggalkan.
Ketika Orang Terdekat Meninggalkan Kita
View on original source
Share
Archive
Like

(0)Comments

 

Related Opinion

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.