Konten ini dibuat oleh pengguna Kompasiana. Seluruh isi menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan resmi redaksi Kompas.
Kecerdasan buatan atau AI sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia pendidikan. Banyak orang merasa terbantu karena AI bisa mempercepat pekerjaan, membantu belajar, bahkan membantu guru menyiapkan materi yang lebih menarik dan lengkap. Namun di balik semua kemudahan itu, terdapat satu hal yang perlu terus dipikirkan bersama. AI memang bisa membantu manusia belajar lebih cepat, tetapi AI tidak boleh menggantikan proses berpikir dan perkembangan manusia. AI hanya pantas disebut alat yang baik kalau manusia yang memakainya tetap memegang kendali, terutama soal kejujuran dan kedalaman berpikir.
Kalau dilihat dari sisi positifnya, AI memang membawa banyak manfaat nyata bagi pendidikan. AI membantu pengembangan pengetahuan dan penelitian di banyak bidang. AI juga membuat siswa bisa belajar dengan lebih dalam, lebih cepat, dan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Selain itu, AI membantu dosen dan guru mengembangkan gagasan serta materi pembelajaran yang lebih menarik. Jadi wajar kalau banyak orang menyambut baik kehadiran AI dalam dunia pendidikan.
Meski begitu, sisi negatif dari AI juga tidak boleh dianggap remeh. Otomatisasi bisa mengurangi lapangan kerja karena banyak pekerjaan manusia yang bisa digantikan oleh mesin, sehingga risiko pengangguran juga ikut meningkat. Data pengguna yang tidak dikelola dengan baik juga bisa disalahgunakan, bahkan bisa dipakai untuk pengawasan secara berlebihan. Hal yang paling penting untuk dibahas dalam dunia pendidikan adalah tiga hal, yaitu soal kejujuran karya, kedalaman belajar, dan ketergantungan pada AI. Kalau AI bisa menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan detik, muncul pertanyaan apakah karya itu benar-benar hasil pemikiran siswa sendiri atau hanya salinan dari hasil kerja mesin. Kemudahan yang terlalu besar juga bisa membuat siswa belajar secara minim, sekadar mengejar hasil cepat tanpa benar-benar memahami apa yang sedang dipelajari. Kalau dibiarkan terus-menerus tanpa batas, siswa bisa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya sendiri. Bukannya bertumbuh menjadi pribadi yang utuh, siswa justru berisiko menjadi seperti robot yang sepenuhnya bergantung pada AI.
Ajaran pendidikan Jesuit juga sangat relevan untuk menjawab persoalan ini. Pendidikan Jesuit tidak pernah berhenti hanya pada pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi selalu mengarah pada pembentukan manusia yang utuh, mulai dari pikiran, karakter, sisi spiritual, sisi kejiwaan, sampai kepekaan sosialnya. Pendekatan cura personalis mengajarkan bahwa relasi antara guru dan siswa harus tetap personal, sebab setiap pribadi adalah ciptaan yang bermartabat dan tidak boleh direndahkan hanya karena adanya teknologi. Selain itu, ada juga pendekatan discernment yang mengajarkan siswa untuk berani mengambil keputusan sendiri dengan mempertimbangkan bukan hanya data dan kecepatan, tetapi juga conscience atau pertimbangan hati nurani yang lebih dalam. Pendekatan nilai ini menjadi penyeimbang yang justru semakin dibutuhkan di tengah maraknya perkembangan teknologi seperti sekarang.
Perkembangan AI juga mengajak kita untuk merenungkan hal yang lebih mendalam, yaitu soal hubungan antara teknologi, teologi, dan kemanusiaan. Muncul pertanyaan sampai sejauh mana kecerdasan buatan bisa atau tidak bisa menggantikan peran manusia sebagai gambar Allah yang unik dan bermartabat. Pertanyaan seperti ini bukan sekadar wacana yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan tantangan nyata bagi dunia pendidikan untuk terus mengembangkan sikap yang suportif namun tetap kritis dan penuh pertimbangan terhadap teknologi. Artinya, kita boleh menerima manfaat AI, tetapi jangan sampai kehilangan kendali atas nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
AI bukanlah musuh yang harus dijauhi, tetapi juga bukan sesuatu yang boleh dianggap segalanya. Sekolah atau institusi pendidikan lainnya perlu terus mengajarkan siswa untuk berpikir kritis, berpendapat dengan alasan yang jelas, dan mengambil keputusan secara tepat, dengan terus mengasah kemampuan discernment. Sisi rohani, sisi kejiwaan, dan nilai kejujuran harus tetap dijaga supaya tidak tergerus oleh kepraktisan teknologi. Sebab secanggih apa pun kecerdasan buatan, hal itu tetap hanya menjadi alat bantu. Hal yang menentukan arah pendidikan bukanlah seberapa baik AI bekerja, melainkan seberapa dalam manusia yang memakainya tetap mau berpikir, jujur, dan peduli terhadap sesama.
(0)Comments