JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (7/9) dibuka melemah 4 poin atau 0,02% ke level Rp17.646 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.642 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah pada perdagangan pagi ini salah satunya dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
'Dalam perdagangan pagi ini rupiah melemah, salah satu penyebabnya adalah tensi geopolitik di Timur Tengah,' kata Ibrahim di Jakarta, Senin (7/9), melansir Antara.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan tersebut turut mengangkat indeks dolar AS dan harga minyak mentah, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Ibrahim menyebut harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$91,92 per barel atau sekitar Rp1,62 juta per barel, sedangkan minyak mentah Brent sekitar US$96,55 per barel atau setara Rp1,70 juta per barel.
Dia menjelaskan, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk memenuhi kebutuhan impor minyak.
'Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi ini rupiah mengalami pelemahan,' ujarnya.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pasar juga memperhatikan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang turut memengaruhi kegiatan ekonomi akibat gangguan terhadap penerbangan.
"Walaupun tidak terlalu besar, tapi ini berindikasi terhadap ekonomi di Indonesia. Kita lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup," tuturnya.
Dia juga mengatakan pelaku pasar menantikan sejumlah data ekonomi domestik, antara lain perkembangan cadangan devisa, penjualan eceran, dan indeks keyakinan konsumen.
Sementara itu, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga kebijakan The Fed pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) September 2026.
Nonfarm payrolls AS meningkat sebesar 162 ribu pada Agustus 2026, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 55 ribu dan angka bulan sebelumnya yang telah direvisi menjadi 21 ribu. Tingkat pengangguran tetap sebesar 4,1%.
'Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar yang tecermin dalam pricing terhadap kenaikan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 60%, dari sekitar 50%, sehingga mendukung penguatan dolar AS,' ujar Josua.
Lebih lanjut, ia memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin bergerak pada kisaran Rp17.600-Rp17.725 per dolar AS.
Rupiah TertekanData Bloomberg pada pukul 11.39 WIB menunjukkan, dolar AS lanjut menguat terhadap rupiah sebesar 0,12% atau 21 poin ke level Rp17.663 per dolar AS di pasar spot. Sementara itu, rentang pergerakan rupiah harian diestimasi berada di kisaran Rp17.643-17.677 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada saat yang sama terpantau naik tipis 0,01% ke 99,18 atau masih jauh dari zona psikologis Juni 2026 di level 100. Adapun pergerakan DXY tersebut berada dalam kisaran rentang 52 pekan terakhir di level 95,55-101,80.
(0)Comments