CEK TKP - Personel Polsek Nanga Tayap saat mengecek lokasi lubang bekas aktivitas PETI di kawasan Rawangan Kecil, Desa Persiapan Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang, Kalimantan Barat, yang menjadi lokasi empat warga meninggal dunia saat hendak mengambil air, Senin 31 Agustus 2026.
Ringkasan Berita: Keempat warga ditemukan tewas meregang nyawa di dalam lubang bekas aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berlokasi di kawasan Rawangan Kecil, Desa Persiapan Bayangan, pada Senin, 31 Agustus 2026.
Keempat korban diketahui bernama SAK (28), SAH (41), PK (22), dan JY (21). Seluruhnya merupakan warga Dusun Bayangan, Desa Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Niat mengambil air bersih untuk kebutuhan rumah tangga di tengah ancaman musim kemarau ekstrem berakhir tragis bagi empat orang warga di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Keempat warga ditemukan tewas meregang nyawa di dalam lubang bekas aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berlokasi di kawasan Rawangan Kecil, Desa Persiapan Bayangan, pada Senin, 31 Agustus 2026.
Keempat korban diketahui bernama SAK (28), SAH (41), PK (22), dan JY (21). Seluruhnya merupakan warga Dusun Bayangan, Desa Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.
Kecamatan Nanga Tayap merupakan salah satu wilayah pedalaman di korridor tengah Kabupaten Ketapang.
Berikut data jarak serta aksesibilitas menuju Kecamatan Nanga Tayap dari Kota Pontianak (Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat):
Jarak Tempuh Jalur Darat: Sekitar 280 km – 320 km melintasi koridor Poros Selatan Kalimantan Barat.
Waktu Tempuh Perjalanan: Membutuhkan waktu perjalanan darat sekitar 6,5 hingga 8 jam menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua.
• Paguyuban Jawa Ketapang Gelar Grebeg Maulid Nabi di Rumah Joglo, Diwarnai Peletakan Batu Pertama
Rute Perjalanan: Mengikuti jalan Trans Kalimantan dari Kota Pontianak melintasi Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sanggau (Tayan), lalu memotong menuju arah Sandai dan Nanga Tayap sebelum memasuki pusat Kabupaten Ketapang.
Berawal dari Mesin Pompa Air hingga Petaka Berantai
Berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan saksi kunci di lapangan, tragedi maut ini bermula ketika para korban bersama saksi bernama Parida (istri dari korban SAH) pergi menuju lokasi lubang bekas PETI untuk mencari pasokan air bersih yang masih tersisa di tengah kemarau panjang.
Di lokasi tersebut, salah satu korban berupaya menyedot air menggunakan mesin pompa.
Namun, karena selang yang digunakan terlalu pendek dan tidak mencapai genangan air di dasar lubang, korban memutuskan untuk turun ke dalam lubang guna menurunkan posisi mesin pompa.
Setelah mesin berhasil diturunkan dan dihidupkan, air sempat mengalir serta ditampung menggunakan lembaran terpal.
Namun tak lama kemudian, suasana berubah mencekam saat korban yang berada di bawah tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Kondisi tersebut diduga kuat dipicu oleh terhirupnya gas beracun emisi mesin buang atau minimnya kadar oksigen (hipoksia) di dasar lubang tertutup.
Melihat saudaranya terkulai tak berdaya, tiga korban lainnya secara bergantian berusaha memberikan pertolongan dengan ikut turun ke dasar lubang.
(0)Comments