Kisah Pilu PMI Jember, Meninggal Sebatang Kara di Musala Shah Alam
Reporter: Febri Irawan
|
Editor: Muhammad Ridho
Pemulangan jenazah Muhammad Iswandi, Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Malaysia --
JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Tangis haru menyelimuti Desa Biting Krajan, Kecamatan Arjasa, Jember, Minggu (6/9/2026) malam. Setelah 19 hari terlunta-lunta tanpa kepastian di perantauan, jenazah Muhammad Iswandi, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang ditemukan tewas di sebuah surau di Malaysia, akhirnya tiba di kampung halaman.
Peti jenazah mendarat tepat pukul 21.18 WIB dan langsung diberangkatkan menuju peristirahatan terakhirnya di pemakaman desa setempat.
BACA JUGA:Rintihan Warga Kekeringan Terobati, PMI dan Perumdam Tirta Pandalungan Alirkan Kehidupan di Jember
Mini kidi--
Proses kepulangan almarhum menyisakan kisah pilu dan perjalanan panjang. Iswandi dihembuskan napas terakhirnya di dalam salah satu musala di kawasan Shah Alam, Selangor, Malaysia, pada 18 Agustus 2026 lalu. Namun, kerumitan administrasi dan penanganan aparat setempat sempat membuat jasadnya sukar dilacak.
"Alhamdulillah, setelah sekian lama dalam ketidakpastian, jenazah Bapak Iswandi akhirnya bisa dipulangkan ke Jember," ungkap relawan Gus Fawait, Rio Christiawan, saat mendampingi proses pemakaman.
Rio menceritakan, jasad Iswandi awalnya dievakuasi oleh kepolisian setempat dari dalam surau. Situasi itu membuat rekan-rekan sesama pekerja terdekat kehilangan jejak keberadaan almarhum. Informasi duka baru menembus pihak relawan sekitar tanggal 28 atau 29 Agustus 2026.
BACA JUGA:Program SMK Go Global Digenjot, Pelatihan CPMI Surabaya Bidik Pasar Taiwan dan Malaysia
Mendapat kabar tersebut, relawan berkoordinasi dengan Anggota DPR RI Bambang Haryadi guna menjembatani komunikasi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia.
"Kabar ini langsung kami teruskan ke Pak Bambang Haryadi yang sigap mengontak KBRI. Informasi disebar ke jaringan diaspora Indonesia di sana. Hanya dalam satu atau dua hari, posisi pasti jenazah berhasil ditemukan," papar Rio.
Di balik musibah ini, cerita yang tak kalah menyayat hati datang dari putri almarhum, Istantina Anitia. Ia menuturkan sang ayah telah mengadu nasib di Negeri Jiran sejak 2006. Almarhum pernah berganti-ganti pekerjaan pabrik, mulai dari pembuatan rangka mobil hingga kemasan plastik.
BACA JUGA:Siaga Konflik Timur Tengah, BP3MI Jawa Timur Siapkan Skema Evakuasi PMI Asal Jatim
Istantina menyebut ayahnya tidak memiliki riwayat sakit kronis saat pertama kali berangkat. Namun, dua tahun belakangan almarhum sering mengeluhkan diabetes dan tekanan darah tinggi.
Niat almarhum untuk kembali ke pangkuan keluarga di Indonesia sebenarnya tinggal menghitung hari. Sebelum ditemukan wafat, kondisi fisiknya memburuk akibat luka infeksi.
(0)Comments