Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih terus berlangsung dengan teramatinya delapan kali guguran lava sejauh maksimal 1.700 meter ke arah barat daya pada Sabtu (5/9/2026) dini hari hingga pagi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan guguran lava tersebut meluncur menuju alur Kali Sat/Putih dan Kali Krasak, seiring dengan suplai magma yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung berapi tersebut.
Selain meluncurkan lava, angin kencang berkecepatan hingga 59 km/jam di lereng Merapi menerbangkan endapan debu vulkanik sehingga membentang seperti garis putih di lereng gunung pada Sabtu pagi, sementara status aktivitas ditetapkan masih berada pada Level III atau Siaga.
Kepala BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santosa menjelaskan hasil pemantauan udara terbaru menunjukkan adanya perubahan volume pada dua kubah lava di puncak Merapi.
"Volume Kubah Barat Daya bertambah sekitar 94.400 meter kubik menjadi 4.163.300 meter kubik. Sedangkan Kubah Tengah berkurang sekitar 800 meter kubik menjadi sebesar 2.369.600 meter kubik," ujar Agus dalam keterangan resminya, Jumat (4/9/2026).
Hasil pemantauan foto termal menunjukkan suhu kedua kubah relatif stabil pada angka 243 derajat Celsius, meski jaringan seismik mencatat dua kali awan panas guguran dengan jarak luncur hingga 2.000 meter ke Kali Sat/Putih.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman bersama Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mengantisipasi ancaman ganda berupa erupsi dan kebakaran vegetasi di kawasan lereng yang mengering selama musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat kesiapsiagaan melalui langkah mitigasi struktural dan non-struktural sebelum potensi risiko berkembang lebih jauh.
"Merapi saat ini dalam kondisi Siaga Darurat. Aktivitasnya masih dinamis dengan puluhan hingga ratusan guguran setiap hari. Oleh karena itu langkah mitigasi kebencanaan terus kami optimalkan sebelum potensi risiko berkembang ke tingkat Tanggap Darurat jika terjadi kenaikan status," kata Bambang di Sleman, Jumat (4/9/2026).
Guna mendukung evakuasi warga Kawasan Rawan Bencana (KRB), BPBD Sleman menyiagakan 37 unit Early Warning System (EWS), merawat barak pengungsian, serta menggelar simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di wilayah Turi, Cangkringan, dan Pakem.
"Kami mengecek, memperbaiki, dan merawat EWS digital, baik berupa sirene suara maupun kamera pengawas (CCTV) di wilayah lereng Merapi hingga di barak-barak pengungsian. Kesiapan barak serta pasokan logistik pangan dan non-pangan, termasuk stok masker anti-debu, juga telah disiagakan," kata Bambang.
Pemerintah Kabupaten Sleman menetapkan status Siaga Darurat Erupsi Gunung Api Merapi hingga 30 September 2026.
"(Upaya yang kami lakukan) satu, ya jelas siaga kebakaran. Karena kemarin sempat kebakaran, dan habis vegetasi atas lereng Gunung Merapi," kata Bambang saat ditemui di kantornya, Selasa (1/9/2026).
Petugas di lapangan mengonfirmasi bahwa kendala perbaikan fisik fasilitas barak pengungsian saat ini masih disiasati di tengah keterbatasan anggaran pemeliharaan tahunan.
"EWS kondisinya baik semua. Cuman, memang butuh pengecekan, karena ada EWS yang berpotensi korslet itu," kata Bambang.
Guna mencegah pemicu kebakaran vegetasi meluas akibat awan panas, pihak pengelola kawasan hutan lindung meningkatkan patroli darat dan udara secara berkala.
Kepala TNGM T. Heri Wibowo menjelaskan bahwa luncuran awan panas sempat membakar sebagian vegetasi di hulu Kali Sat pada Sabtu (29/8/2026), namun api berhasil padam sebelum meluas.
"(Personelnya dari) ASN, manggala agni, dan masyarakat mitra polhut atau masyarakat peduli api untuk berjaga atau standby," kata Heri.
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di zona bahaya alur sungai sektor selatan-barat daya sejauh 5-7 km dan sektor tenggara sejauh 3-5 km dari puncak.
(0)Comments