AR

Arga Sumantri

Cerita Dokter Forensik Membaca Penyebab Jenazah Meninggal Dunia

Image
Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti. Q&A Metro TV. Arga Sumantri • 6 September 2026 21:25 Jakarta: Program Q&A Metro TV edisi Minggu, 6 September 2026, menghadirkan seorang dokter kepolisian yang sudah sangat berpengalaman di dunia forensik, Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti. Hastry saat ini menjabat Karodokpol Pusdokkes Polri. Pengalaman sekitar 22 tahun di dunia forensik membuat Hastry disebut-sebut memiliki kemampuan khusus, yakni bisa mengidentifikasi lebih awal penyebab jenazah meninggal dari bau. Namun, Hastry mengungkapkan kalau itu adalah kemampuan yang alami dan tidak ada dalam teori. "Bau itu cara saya mempercepat identifikasi apakah memang ada sesuatu yang masuk ke tubuhnya, seperti cairan gitu. Karena beda baunya. Tidak ada dalam teori. Kita tetap buktikan dengan ilmiah," ungkap Hastry dalam program Q&A Metro TV yang tayang Minggu, 6 September 2026. Hastry tercatat pernah menangani banyak kasus besar. Salah satu yang belum lama ini ialah terlibat dalam ekshumasi jenazah Sutrimo, orang dekat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Hastry ditanyai terkait ada tidaknya intervensi dalam menangani kasus itu. Pasalnya, kasus tersebut melibatkan seseorang dengan jabatan tinggi di institusi penegak hukum. "22 tahun jadi dokter forensik tidak pernah mengalami intervensi. Kasus ini sama seperti yang lain. kami memeriksa dengan tim laboratorium yang lengkap," ungkap Hastry. Program Q&A Metro TV, Minggu, 6 September 2026. Kasus Terberat yang Pernah Ditangani Hastry juga bercerita kalau kasus terberat yang ditangani ialah Bom Bali I. Kala itu, ia beserta tim lainnya harus mengidentifikasi 202 jenazah korban Bom Bali I. Kala itu, ia juga sedang pendidikan. "Kemudian kasus mutilasi pastinya (terberat). Karena tanpa identifikasi awal itu penyidik akan kesulitan mengungkap kasus tersebut," ungkap dia. Hastry juga bercerita pernah melakukan proses autopsi langsung di dalam kuburan. Kala itu, ia harus memeriksa jenazah teroris yang sudah dimakamkan. Namun, warga sekitar tidak terima jika jenazah itu harus dikeluarkan dari dalam kubur. "Masyarakat di sana tidak terima karena aib, kita gali (kuburan) cukup luas kita kerjakan di makam," ujar Hastry. Baca Juga : Srikandi Penjaga Langit Penelitian forensik kerap menjadi salah satu kunci mengungkap sebuah kasus dengan korban yang sudah meninggal dunia. Namun, tak jarang masih ada beberapa kasus dugaan pembunuhan yang hingga saat ini belum terungkap, sebut saja kasus mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tenggelam di danau beberapa tahun lalu. "Olah TKP awal itu kunci terungkapnya kasus cepat atau tidak, seringkali olah TKP tidak lengkap tidak bagus, karena sudah terkontaminasi oleh masyarakat yang niatnya baik, untuk membantu," ungkap Hastry. Menurut dia, penyelidikan sebuah kasus dengan korban yang meninggal dunia juga berpacu dengan waktu. Waktu paling baik untuk mengidentifikasi jenazah ialah tak lebih dari 36 jam. "Seringkali sudah siap autopsi, tapi masih perlu izin keluarganya," ujarnya. (Arga Sumantri)
Cerita Dokter Forensik Membaca Penyebab Jenazah Meninggal Dunia
View on original source
Share
Archive
Like

(0)Comments

 

Related Opinion

A note on cookies

Newshunt uses essential cookies to keep you signed in and to remember your language and country, so the site works the way you expect. With your permission, we'd also like to use analytics cookies to understand how people use Newshunt and improve it over time.

Accepting only affects analytics. To learn more, view our Privacy Policy or Terms & Conditions.